Peringatan Hari Lahir Pancasila bertepatan di bulan Ramadhan

Solok, (MC Kota Solok) – Walikota Solok Zul Elfian bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara Bendera peringatan Hari Lahir Pancasila, Jum’at (2/6) di Halaman Balakota Solok. Upacara yang bertemakan “Revitalisasi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” di komandoi  Aditya Nugkraha Sekretaris Lurah Sinapa Piliang diikuti peserta dengan semangat Kebhinekaan meskipun dalam kondisi Puasa. Turut hadir undangan Wakil Walikota, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda), Ketua LKAAM, Bundo Kanduang, Ketua GOW, Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pejabat Eselon III, Pasukan  Karyawan karyawati KORPRI, Pol PP, Dishub, TNI dan POLRI.

Upacara yang semestinya diselenggarakan Rabu lalu merupakan peringatan Hari Lahir Pancasila pertama kalinya dan ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden (KEPRES) Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. Dalam keputusan tersebut disebutkan bahwa penetapan tanggal 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila; penetapan tanggal 1 Juni sebagai hari Libur Nasional; serta menetapkan Pemerintah beserta komponen Bangsa dan masyarakat Indonesia untuk memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni.

Walikota Solok menyampaikan sambutan tertulis Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mengatakan “Pancasila merupakan hasil dari satu kesatuan proses yang dimulai dengan rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945 yang dipidatokan Ir. Sukarno, Piagam Jakarta tanggal 22 Juni1945, dan rumusan final Pancasila tanggal 18 Agustus 1945. Adalah jiwa  besar  para  founding   fathers, para ulama dan pejuang kemerdekaan dari seluruh pelosok Nusantara.

Upacara ini meneguhkan komitmen kita agar lebih mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. sehingga kita bisa membangun kesepakatan bangsa yang mempersatukan kita.

Harus diingat bahwa kodrat bangsa Indonesia adalah keberagaman. Takdir Tuhan untuk kita adalah keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke adalah keberagaman. Dari Miangas sampai  Rote adalah juga  keberagaman. 8erbagai etnis,   bahasa,   adat   istiadat,   agama,   kepercayaan   dan golongan bersatu padu membentuk Indonesia. Itulah ke- bhinneka  tunggal ika-an kita.

Namun, kehidupan berbangsa dan bernegara kita sedang mengalami tantangan. Kebinekaan kita sedang diuji. Saat ini ada pandangan dan tindakan yang mengancam kebinekaan dan keikaan kita. Saat ini ada sikap tidak toleran yang mengusung ideologi selain Pancasila. Masalah ini semakin mencemaskan tatkala diperparah oleh penyalahgunaan media sosial yang banyak  menggaungkan hoax alias kabar bohong.

Kita perlu belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme dan perang saudara.  Dengan Pancasila dan  UUD  1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka   Tunggal  Ika,  kita bisa terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong  untuk  memajukan negeri. Dengan Pancasila, Indonesia adalah harapan dan rujukan masyarakat internasional untuk membangun dunia yang damai, adll dan makmur di tengah kemajemukan.

Oleh karena itu, saya mengajak peran aktif para ulama, ustadz, pendeta, pastor, bhiksu, pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam  bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara harus terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan,  fokus  pemberitaan  dan  perdebatan  di  media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila. (dy/sh)

 

%d blogger menyukai ini: