Dinkes Selenggarakan Sosialisasi Tentang TB

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi tentang penyakit TB (Tuberkulosis) pada masyarakat Kota Solok. Acara yang dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 26-27 november 2018 di aula Puskesmas Tanjung Paku dan Puskesmas Tanah Garam. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh kasi P2P, Hj. Dice farida beserta stafnya. Narasumber pada acara ini disampaikan oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru dari IDI Kota Solok dan Hj. Dice Farida dari Dinas Kesehatan Kota Solok. Jumlah peserta dalam acara sosialisasi ini sebanyak 130 orang terdiri dari masyarakat Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan.

Acara ini dibuka oleh kasi P2P yakni Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya sosialisasi ini agar Masyarakat dapat mengetahui tentang apa itu Tuberkulosis, bagaimana upaya masyarakat untuk pencegahan peningkatan kasus TB, masyarakat juga mampu mendeteksi dini anggota keluarga atau masyarakat di lingkungannya yang menderita TB, agar masyarakat bisa berinisiatif sendiri untuk memeriksakan dugaan TB ke puskesmas terdekat. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang langsung disebabkan oleh kuman TBC (Mycobaketerium tuberculosis). Pada penyakit tuberkulosis jaringan yang paling sering diserang adalah paru-paru (95,9 %), tetapi dapat juga mengenai tubuh lainnya. Gejala yang biasanya muncul adalah demam, batuk darah, batuk yang biasanya berlangsung lama dan produktif yang berdurasi lebih dari 3 minggu. Tuberkulosis merupakan penyakit lama yang masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular. Ada beberapa penyebab utama meningkatnya beban masalah TB yaitu kemiskinan, kondisi sanitasi, papan, sandang dan pangan yang buruk, beban determinan social yang masih berat, dan kegagalan program TB yang masih kurang berhasil, dan masalah kesehatan lain seperti gizi buruk, merokok, DM dan HIV.

Dilanjutkan dengan pemberian materi pertama langsung oleh Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan apa yang dikatakan tentang tuberkulosisi (TB), apa saja tanda dan gejala dari TB tersebut yang lebih utama adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih, dan gejala lainnya batuk bercampur darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan berkurang, berat badan turun, rasa kurang enak badan (lemas), demam meriang berkepanjangan, berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan. Bagaimana penularan dari TB tersebut, apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui masyarakat yang mengalami TB, bagaiamana pengobatannya, serta apa efek samping bila meminum obat TB. Serta bagaimana cara pencegahan dari penularannya.

Selanjutnya pemberian materi kedua oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru, beliau menyampaikan bagaiaman cara peningkatan kader dalam menghadapi klien yang menderita penyakit TB, bagaiamana alur penjaringan suspek oleh kader. Kebijakan Operasional
Penanggulangan Tb Nasiona, aba beberapa strategi yang dilakukan untuk penanggulangan TB yakni Paradigma sehat, Peningkatan mutu pelayanan. Apa saja faktor yg mempengaruhi seseorang menjadi penderita TB. Perjalanan alamiah yg tidak diobati. Harapan dilaksanakannya sosialisasi ini nantinya agar masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang Tuberkulosis, Program pengendalian TB serta hal-hal lain yang mendukung terselenggaranya pelayanan pengendalian TB. Pelaksanaan Program TB telah berjalan cukup baik di Kota Solok, namun masih belum memenuhi target Nasional. (ig)

Peringati Hari Kesehatan Nasional Ke-54: Dinas Kesehatan Gelar Sosialisasi

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi dan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara dalam rangkaian pencanangan Inspeksi Visual Asamasetat (IVA) memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-54 pada masyarakat Kota Solok, selama dua hari tanggal 21-22 November 2018 bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok dalam hal ini diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P dr. Pepy Lady Soffiany, dengan menghadirkan narasumber dr. Helwi Nofira, Sp.OG dan dr. Vandra Bina Riyanda, Sp. B dari IDI Kota Solok serta Hj. Dice Farida Kasi P2P Dinas Kesehatan Kota Solok. Peserta pada acara sosialisasi ini terdiri dari tokoh masyarakat, organisasi wanita, bundo kanduang dan masyarakat yang sudah menikah.

Hj. Dice Farida, menyampaikan “Penekanan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di masing-masing kelurahan yang ada di Kota Solok. Masyarakat Kota Solok juga perlu mengetahui penting mendeteksi dini kanker leher rahim dan payudara ini bagi yang telah menikah usia 20-50 tahun kepuskesmas terdekat,” katanya.

dr. Pepy dalam sambutanya mengatakan “dengan mendeteksi secara dini faktor resiko kanker payudara dan kanker leher rahim melalui metode IVA meningkatkan upaya pengendalian faktor resiko kanker terutama pada kelompok masyarakat beresiko dan cara meningkatkan cakupan deteksi dini kanker di Kota Solok, saat ini cakupannya baru 40%,” ungkapnya.

dr. Helwi Nofira, Sp.OG, dalam pemaparannya menjelaskan “Kanker adalah penyakit tumor ganas yang dapat menyebar (metastasis) ke organ-organ yang lain dan menyebabkan kematian. Kanker servik adalah kanker yang menyerang leher rahim. Deteksi ini dapat mengurangi jumlah kematian akibat kanker karena jika kanker ditemukan pada stadium paling dini biasanya dapat diobati sebelum menyebar lebih jauh,” jelasnya.

Lanjutnya, IVA bertujuan untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Dengan IVA dapat diketahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Keuntungan IVA  dibandingkan dengan tes-tes diagnosa lainnya, lebih mudah, praktis, dapat dilaksanakan oleh seluruh tenaga kesehatan, alat-alat yang dibutuhkan sederhana, sesuai untuk pusat pelayanan sederhana,” kata dr Helwi.

“Kanker Payudara (KPD) adalah keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Pengobatan kanker payudara dapat dilakukan secara medis. Pengobatan medis terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, dan kemoterapi dan obat penghambat hormon. Dengan menemukan adanya kanker secara dini maka kanker tersebut masih dapat disembuhkan, untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat kanker,” terang  dr. Vandra Bina Riyanda, Sp.B.

Dengan dilaksanakannya sosialisasi ini nantinya masyarakat Kota Solok diharapkan mau memeriksakan deteksi dini dengan IVA difasilitas pelayanan kesehatan masing-masing dan dapat terhindar dari yang namanya kanker leher rahim dan kanker payudara serta pentingnya deteksi dini ini untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita. (ig)

Dinas Kesehatan Gelar Sosialisasi Bahaya Rokok Kepada Duta Anti Rokok Se-kota Solok

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan Sosialisasi Bahaya Rokok Kepada Duta Anti Rokok se-Kota Solok di aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Senin (19/11).

Acara tersebut menghadirkan narasumber Hafrizal, SKM.M.Kes dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Azizurrahman, S.Sos Badan Narkotika Nasional (BNN) Kab. Solok, dan dr. Wafda Aulia, Sp.Paru dari IDI Kota Solok, yang diikuti sebanyak 150 orang peserta terdiri dari Duta Anti Rokok mahasiswa dan anak sekolah se-Kota Solok.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P, dr. Pepy Lady Soffiany dalam sambutannya menyampaikan acara ini tujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bahaya rokok dan napza serta mampu melaksanakan sosialisasi pada teman sebaya untuk melakukan konseling untuk berhenti merokok difasilitas pelayanan kesehatan primer.

Azizurrahman, narasumber dari BNN menyampaikan kebiasaan merokok bagi masyarakat Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan, karena konsumsi rokok yang masih cenderung tinggi. Sementara beban biaya yang diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan oleh rokok dan dapat menimbulkan terjadinya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti gangguan pernafasan, penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker paru, ini bukan hanya dari biaya pengobatan tetapi juga biaya hilangnya hari atau waktu produktivitas.

“Bagi dunia pendidikan, tak ada tantangan paling menyeramkan dalam siklus belajar mengajar kecuali perilaku siswa yang terus merosot karena banyak kasus perilaku merokok pada pelajar hampir bisa dipastikan 90% kebiasaan merokok siswa muncul bukan disebabkan keinginan pribadi, melainkan pengaruh kelompok,” jelas Azizurrahman.

Selanjutnya Hafrizal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyampaikan tentang kebijakan dan strategi penyakit tidak menular dan rokok serta kawasan tanpa rokok dalam upaya berhenti merokok di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan sekolah sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah RI No.109 Tahun 2012.

“Pelayanan terpadu Penyakit Tidak Menular pada FKTP masih terbatas, karena masih belum mampu menjalankan peran sebagai “gate keeper”, masih tingginya “missing opportunity” karena tidak terdeteksinya faktor risiko penyakit tidak menular. FKTP fokus membantu perokok untuk berhenti merokok (konseling), membangun motivasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung. Sedangkan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) rawat tingkat lanjut memberikan konseling lanjutan, serta pengobatan spesialistik,” ungkap Hafrizal.

Wafda Aulia, Sp.Paru, memaparkan tentang bagaimana pelayanan klinik berhenti merokok, apa yang dimaksud dengan rokok, apa-apa saja kandungan yang terdapat didalam rokok, apa saja yang membuat sulit berhenti merokok dan apa manfaatnya setelah berhenti merokok. Apa prinsip-prinsip upaya dalam berhenti merokok, bagaimana konseling untuk yang belum mau dan yang mau berhenti merokok, serta cara dan langkah berhenti merokok.

Dengan sosialisasi ini diharapan Duta Anti Rokok yang hadir dapat menjadi penyuluh untuk teman sebayanya, serta sebagai upaya pendekatan pada teman sebaya untuk menjalin komunikasi efektif bagi para pelajar yang merokok untuk dapat dirangkul oleh duta tersebut agar dapat menjauhi rokok serta mendapatkan layanan konseling upaya berhenti merokok di Puskesmas Se-Kota Solok. (ig)

Dinas Kesehatan Sosialisasikan Pelayanan Ramah Anak

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi pelayanan ramah anak bagi petugas puskesmas se Kota Solok di aula Puskesmas Tanah Garam Kota Solok, Selasa (13/11). Acara ini hadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Kesmas dan P2P, dr. Pepy Lady Soffiany, Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Ns. Aprinur Azwira, S.Kep beserta jajarannya, Narasumber yang hadir pada acara ini yaitu Kepala Seksi Pengasuh Alternatif Pendidikan Kesehatan dan Kesejahteraan DPPA Prov. Sumbar yakni Nelwetis, SKM.MPH. Jumlah peserta pada sosialisasi ini sebanyak  25 orang yang terdiri dari petugas puskesmas.

Acara yang dibuka oleh dr. Pepy Lady Soffiany, beliau menyampaikan, “Bahwa program peningkatan pelayanan kesehatan anak terdiri dari beberapa macam kegiatan salah satu kegiatannya pelayanan ramah anak dipuskesmas. Pelayanan ramah anak yang dimaksud adalah upaya yang dilakukan puskesmas berdasarkan pendekatan pemenuhan hak asasi anak, dengan empat prinsip yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, dan perkembangan anak serta penghargaan terhadap pendapat anak. Selain itu telah dilakukan pelayanan ramah anak dipuskesmas secara komprehensif, mencakup komponen kelembagaan (SDM dan Data), sarana dan prasarana dan komponen pelayanan,” paparnya.

“Tujuan diadakannya sosialisasi ini yakni petugas puskesmas dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan pelayanan ramah anak dipuskesmas, dan meningkatnya pemahaman tentang langkah pengembangan pelayanan ramah anak di Puskesmas,” tambah dr. Pepy.

Dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Nelwetis, SKM.MPH yang menyampaikan, “Tentang kebijakan pelayanan ramah anak dipuskesmas dalam upaya percepatan kota layak anak. Pelayanan rumah anak ini adalah upaya atau pelayanan yang dilakukan berdasarkan pemenuhan, perlindungan dan penghargaaan atas hak-hak anak. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan terdepan menjalankan kewajiban atau kebijakan Negara dalam pembangunan kesehatan yang berbasis wilayah. Memberikan pelayanan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan pemulihan berperan dalam pemberdayaan orang tua, keluarga dan masyarakat sebagai pusat informasi, paham dan mampu memenuhi hak kesehatan anak. Pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anaka yang masih dalam kandungan pasal 1 UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak. Sedangkan hak anak adalah bagian dari HAM yang wajib dijamin dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara.  Indikator dari pelayanan ramah anak yakni SDM terlatih KHA, pusat informasi hak anak atas kesehatan, ruang bermain anak, penjangkauan kesehatan anak disekolah, LPSA, LPKA, dan PAUD-HI, tata laksana KTA, tersedia Ruang Asi, kawasan tanpa rokok dan sanitasi lingkungan yang sesuai standar,” jelas Narasumber panjang lebar.

Harapan setelah kegiatan ini adalah Kepala Puskesmas atau pengelola puskesmas yang bertanggung jawab diberi informasi tentang pengembangan puskesmas dengan pelayanan ramah anak, selanjutnya diharapkan mensosialisasikannya kepada seluruh tenaga kesehatan dipuskesmas. Dapat menyusun rencana kegiatan meliputi penyesuaian dan menyediakan sarana fisik dan peralatan untuk pelayanan kesehatan bagi anak, memastikan petugas dilatih tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak, menggerakkan seluruh kegiatan agar intensif, membentuk atau membina dan mengembangkan UKM, memberdayakan orang tua serta keluarga dan masyarakat, membangun jejaring dengan para pemangku kepentingan, dan memastikan kelengkapan sarana dan prasarana pendukung. (ig)

DinKes Gelar Pelatihan Pemanfaatan Toga dan Akupresure

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok  menyelenggarakan pertemuan koordinasi tingkat Kota dan Kecamatan tentang pemanfaatan toga dan akupresure di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Kamis (13/11). Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kepala Bidang Pelayanan Promosi Sumber Daya Kesehatan dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes. Acara ini diikuti oleh Kepala Seksi Yankes (Pelayanan Kesehatan) Ns. Hartini, S.Kep. M.Biomed dan 90  orang peserat  yang terdiri dari seluruh pemegang program per puskesmas, PKK Kota Solok, PKK Kecamatan, PKK Kelurahan, dan seluruh kader toga kelurahan. Narasumber pada acara Pelatihan ini  adalah Yulia Fitria, Spd. MM dan Eka Fitria, SKM, yang merupakan Kasi dan staf seksi Yankestrad Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Dalam sambutannya dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes mengatakan bahwa “Pertemuan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan se Kota Solok, PKK dan kader toga tentang pengetahuan TOGA dan Akupresure dan mampu melakukan penyelenggara TOGA dan Akupresure secara baik, tersendiri atau terpadu pada sistem pelayanan kesehatan paripurna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal,” jelas Kabid PPSDK ini.

Dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Yulia Fitria, Spd. MM, beliau menyampaikan “Tentang apa yang dimaksud dengan Toga  (Tanaman Obat Keluarga) adalah sebidang tanah di halaman atau ladang yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang mempunyai hasil obat. Toga juga merupakan tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik dihalaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya Toga dapat memacu usaha kecil dan menengah dibidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.” Ujarnya.

Dalam rangka mendukung program pemanfaatan Toga dan Akupresure dan mengoptimalkan penerimaan informasi oleh masyarakat, maka dari itu Tim penggerak pemberdayaan kesejahteraan keluarga (TP PKK) bekerja sama dengan instansi telah melakukan inovasi pengembangan dan budidaya Toga dan Akupresure dengan jenis dan pemanfaatan Toga dengan jenis beragam. Permasalahan umum yang dihadapi dalam kegiatan pengembangan pemanfaatan Toga merupakan sebagian dari permasalahan yang dihadapi bidang pertanian dan upaya penganekaragaman konsumsi pangan berbahan lokal antara lain yakni belum tercapainya skor keragaman dan keseimbangan konsumsi pangan dan gizi sesuai harapan yang selama ini pencapaiannya masih berjalan sengat lambat dan cenderung fluktuatif, cukup tingginya kesenjangan mutu gizi konsumsi pangan antara masyarakat Desa dan Kota, adanya kecenderungan penurunan proporsi pangan berbasis sumber daya lokal, lambatnya perkembangan dan penyebaran teknologi pengobatan pangan lokal untuk meningkatkan ke praktisan dalam pengobatan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial citra dan daya terima, masih belum optimalnya pemberian intensif bagi dunia usaha dan masyarakat yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal, kurangnya fasilitas pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan aksesibilitas pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Harapan dilaksanakannya pertemuan ini nantinya petugas maupun PKK dan kader dapat mengembangkan tanaman obat keluarga (TOGA)  dilingkungan rumah serta dapat mengetahui apa itu Akupresure dan dapat di laksanakan dan dimanfaatkan untuk keluarga maupun masyarakat sekitar kita. (ig)

Dinas Kesehatan Gelar Monev JKN-KIS Bagi Petugas Puskesmas

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok menyelenggarakan monitoring dan evaluasi Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) bagi 40 orang petugas Puskesmas dan Pengelola program di aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Kamis (8/11).

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok diwakili Kabid PPSDK, dr. HiddayaturrahmI, M.Kes. Turut hadir pada kegiatan ini dari pihak BPJS Kesehatan Cabang Solok yang diwakili Eshlich Von Dantes, Marinus Hardi S. dan Neldawati.

dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menyamakan persepsi dalam pelaporan JKN, mengetahui kendala dalam pelaksanaan JKN di Puskesmas, serta memahami permasalahan data dan dalam rangka untuk menjadikan kota Solok sebagai kota UHC (Universal Health Coverage).

Selanjutnya Narasumber Ehslich Van Dantes dalam materinya mengatakan JKN merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran (non PBI) atau iurannya dibayar oleh Pemerintah (PBI).

Untuk PBI bagi masyarakat kurang mampu di kota Solok dibantu oleh jaminan JKN/KIS dari Pemerintah Pusat sejumlah 15.015 jiwa sedangkan yang dibayarkan oleh Pemda Kota Solok dan Provinsi Sumbar Jaminan Kesehatan Sumbar Sakato (JKSS) sebanyak 11.432 jiwa. Sedangkan yang dibayarkan oleh Pemda Kota Solok / PBI Kota Solok sebanyak 7.254 jiwa. Adapun untuk masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan, Dinas Kesehatan kota Solok sudah berupaya untuk memberikan melalui Jamkesko, namun masih benyak warga yang belum mendaftarkan diri.

Narasumber berikutnya dari BPJS Kesehatan Cabang Solok, Marinus Hardi S. menjelaskan jaminan sosial merupakan perlindungan yang dirancang oleh pemerintah untuk melindungi warga negara terhadap resiko kematian, kesehatan, pengangguran, kemiskinan, pensiun dan kondisi pekerjaan yang tidak layak.

Pemerintah juga mengembangkan program asuransi kesehatan secara nasional sampai tercapainya UHC pada tahun 2019 yang merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu seperti yang dijamin undang-undang SJSN yang dilaksanakan oleh BPJS. Menghadapi tantangan UHC maka dari itu pemerintah menyusun strategi dengan pengintegrasian Jamkesmas kedalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang akan dikelola secara terpusat oleh BPJS paling lambat 1 Januari 2019 semua masyarakat sudah menjadi peserta BPJS.

Dengan pernyataan ini diharapkan nantinya masyarakat kota solok telah paham tentang JKN serta Petugas Puskesmas dan Pengelola Program bisa bekerja sama untuk menjadikan kota Solok sebagai kota yang telah UHC. (ig)

Petugas Puskesmas Dibekali Materi Bencana dan Krisis Kesehatan

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan menyelenggarakan rapat koordinasi bencana dan krisis kesehatan bagi petugas kesehatan di aula Dinkes Kota Solok, Rabu (03/9). Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P, dr. Pepy Ledy Soffiany dan Kasi P2P  Hj. Dice Farida beserta staf. Narasumber yang dihadirkan pada acara ini berasal dari BPBD Kota Solok dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Sebanyak 40 orang peserta yang terdiri dari petugas Puskesmas se- Kota Solok dilibatkan pada kegiatan ini.

Pada pembukaan dr. Pepy Ledy Soffiany menjelaskan bahwa, “Bencana merupakan suatu peristiwa yang dapat mengancam kehidupan masyarakat baik secara luas maupun skala kecil. Akibat bencana tatanan kehidupan masyarakat bisa terganggu dan berbagai aspek kehidupan terancam, termasuk aspek kesehatan masyarakat. Apabila kesehatan masyarakat terganggu akan berdampak pada penurunan bahkan terhenti produktivitas kehidupan. Penanggulangan kesehatan masyarakat akibat bencana, dan bencana itu sendiri secara umum, harus ditangani dengan pendekatan yang berkesinambungan dan komprehensif,”ujarnya.

“Tujuan dari acara ini yaitu mensosialisasikan kebijakan pembangunan Bidang Kesehatan yang berkaitan dengan bencana dan krisis kesehatan di Kota Solok bagi lintas program, memberikan gambaran koordinasi dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan penanggulangan bencana tahun 2018, dapat mensingkronisasikan serta bersinergi dengan program kebencanaan di Kota Solok pada lintas program dan koordinasi dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk wilayah Kota Solok pada tiap-tiap kluster yang ada di Dinas Kesehatan,” tambah dr. Pepy

Dalam pemaparan materi pertama dari BPBD Kota Solok, Agus Susanto, SH yang mengupas bagaimana potensi bencana gempa bumi patahan di Sumatera, mitigasi dan kesiapsiagaannya. Kemudian bagaimana langkah mitigasi yang perlu dilakukan terutama oleh Pemerintah dalam hal ini BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan serta stakeholder.

Selanjutnya  dr. H. Yanrafiq menjelaskan, tentang kesiapan diri, kesehatan, keamanan dan keselamatan diri.  Bagaimana manajemen tanggap darurat bencana yaitu manajemen umum dan manajemen bencana serta  kedaruratan yakni masalah pokok manajemen kedaruratan, konsep tentang operasi, aspek-aspek teknis sektoral dan kegiatan tanggap darurat. Pelatihan manajemen kedaruratan dan kontinjensi yakni tanggap darurat, sistem komando tanggap darurat bencana, komando tanggap darurat bencana, komando tanggap darurat bencana. fasilitas komando, tanggap darurat bencana. tim reaksi cepat. Mekanisme Penanganan Bencana. Kebijakan penanggulangan bencana di Propinsi Sumatera Barat.

Andi Kurniawan menambahkan tentang sistem informasi kebencanaan. “Bahwa dalam penanggulangan bencana, pertolongan pertama yakni Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/ kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar. Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama. Siapa Pelaku Pertolongan Pertama yakni Orang yang pertama kali tiba di tempat kejadian  dan yang sudah terlatihTujuan  yakni selamatkan jiwa korban, cegah cacat, berikan rasa nyaman untuk menunjang proses penyembuhan, kualifikasi pelaku pertolongan pertama,” harap Pegawai BPBD Kota Solok ini.

“Dengan diadakannya acara ini pada petugas kesehatan nantinya dapat mengetahui dan berperan aktif tentang kesiapan pada penanggulangan bencana apabila di Kota Solok nantinya terjadi bencana serta meningkatkan kualitas petugas kesehatan pada penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk tiap-tiap klaster yang ada di Dinas Kesehatan,” harapnya. (ig)

Pembekalan Tim Gerak Cepat (TGC) Petugas Puskesmas Ketika Terjadi KLB

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok menyelenggarakan sosialisasi bagi 20 orang anggota Tim Gerak Cepat (TGC) Petugas Puskesmas se- Kota Solok di Aula Dinas Kesehatan, Rabu (26/9/2018). Dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok, dr. Hj. Ambun Kadri, MKM dan Yusmayanti, SKM. M.Epid dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat sebagai narasumber.

dr. Ambun Kadri dalam sambutannya menyampaikan, wilayah kota merupakan daerah yang terbuka sebagai daerah wisata dan tujuan pendidikan sehingga berpotensi meningkatkan kejadian penyakit, termasuk penyakit yang berpotensi Kejadian Luar Biasa (KLB), juga ketika terjadi bencana alam maka akan mendorong munculnya penyakit menular/tidak menular, dan permasalahan kesehatan lainnya.

Maka dari itu, menurutnya TGC diharapkan mampu untuk mengidentifikasi dinamika penularan penyakit, memahami terduga kontak, memahami riwayat alamiah penyakit, hingga melakukan komunikasi risiko di tingkat komunitas maupun masyarakat. Untuk lebih mudah dalam pelaksanaan tugasnya, dalam TGC akan dibuat Pokja Tanggap Respon dan Pokja Epidemiologi.

“Tujuan diadakannya sosialisasi ini untuk membahas kembali penyakit-penyakit yang dapat menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan wabah, diharapkan petugas mampu menyelesaikan permasalahan ketika terjadi KLB serta petugas mampu menyelesaikan permasalahan program surveilans epidemiologi (kegiatan untuk memonitor frekuensi dan distribusi penyakit di masyarakat, red),” ujar Kadinkes.

Dilanjutkan pemberian materi oleh Yusmayanti, SKM. M.Epid, narasumber menyampaikan materi tentang kebijakan dan strategi penanggulangan penyakit-penyakit Emerging Infectious Diseases (EIDs), seperti Avian flu, Influenza A baru, SARS, Infeksi Hantavirus, Japanese Ensefalitis, Yellow Fever, Meningitis dan lain-lain. Kemudian, kebijakan operasional surveilans dan kinerja sistem kewaspadaan dini.

Pada kebijakan dan strategi penanggulangan EIDs ini, Yusmayanti menjelaskan situasi global EIDs, kemudian implementasi International Helth Regulation (IHR) tahun 2005 yang merupakan hasil Sidang Majelis Kesehatan Dunia dalam rangka mencegah, melindungi, dan menanggulangi terhadap penyebaran penyakit antar negara.

Selanjutnya dijelaskan tentang kebijakan operasional surveilans, konsep dari surveilans serta roadmap surveilans dari tahun 2015-2019. Juga dijelaskan, bagaiamana penyakit untuk menjadi komitmen global dan nasional seperti Polio, Tetanus Neonatorum, Rubella, Campak dan Malaria.

Sosialisasi pembentukan TGC ini dilaksanakan dengan harapan untuk meningkatkan kemampuan petugas dalam melaksanakan tugasnya serta dapat mengaplikasikan surveilan epidemiologi dalam penaggulangan masalah kesehatan, serta penyakit-penyakit yang berpotensi KLB, dan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. (ig)

 

Apoteker se-Kota Solok Ikuti Sosialisasi Gema Cermat Agent Of Change

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyelenggarakan sosialisasi Gema Cermat pada Agent of Change (AoC) yang diikuti oleh Apoteker se-Kota Solok di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Jum’at (14/09).

Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat dalam hal ini diwakili oleh Linarni Djamil, Kepala Dinas Kesehatan yang diwakili oleh Kabid PPSDK, Hiddayaturrahmi, serta dari Direktorat Pelayanan Kefarmasian Kementrian Kesehatan RI Ema Viaza, Dina Sinta Pamela, Roni Syah Putra, Tri Ratna Rejeki, dan Ahmad Zainul Kamal.

Narasumber sosialisasi dari Kepala Seksi Analisis Farmakoekoni Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Ema Viaza, dan Master Agent of Change Padang Isna Desvera, dengan para apoteker yang ada di Kota Solok.

Hiddayaturrahmi dalam sambutannya menyampaikan sosialisasi ini dilaksanakan dalam rangka Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (GeMa CerMat) dan perbekalan kesehatan. Kementerian Kesehatan melakukan sosialisasi ini ke daerah salah satunya Kota Solok. “Apoteker sebagai agent perubahan untuk masyarakat, agar masyarakat nantinya cerdas dalam memilih dan menggunakan obat,” tuturnya.

Dra. Ema Viaza, Apt, selaku narasumber menjelaskan tentang strategi pelaksanaan GeMa CerMat, standar pelayanan kefarmasian adalah pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien, pelayanan kefarmasian klinik, masalah penggunaan obat pada masyarakat.

Lebih lanjut Dra. Ema Viaza, Apt  menjelaskan, “GeMa CerMat adalah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan dalam rangka mewujudkan kepedulian, kesadaran, pemahaman, dan keterampilan masyarakat dalam penggunaan obat secara tepat dan teratur,” jelasnya.

Isna Desvera, S.Farm, Apt, berharap “Apoteker dan tenaga kesehatan lainnya dapat menjadi motivator, edukator dan agen perubahan (Agent of Change) GeMa CerMat, dengan melakukan edukasi pada masyarakat secara massif dan berkesinambungan serta menjadikan masyarakat nantinya cerdas dalam memilih dan menggunakan obat,” harapnya. (ig)

Dinas Kesehatan Selenggarakan Sosialisasi Peningkatan Kapasitas Pengetahuan Kader Lansia

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan menyelenggarakan sosialisasi peningkatan kapasitas pengetahuan kader lansia se Kota Solok tentang penilaian status gizi lansia di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok. Acara sosialisasi ini dilaksanakan selama dua hari tanggal 3-4 September 2018.

Acara ini dihadiri oleh kepala Dinas Kesehatan dalam hal ini diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P, dr. Pepy Ledy Soffiani yang didampingi oleh Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Ns. Aprinur Azwira, S.Kep, yang diikuti sebanyak 108 orang dari Kader Lansia se Kota Solok. Dengan narasumber Sri Zilwardati, SKM dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat yakni dan dr. Reno Sari Chaniago, Sp.S. dari RSU Solok.

Dr. Pepy Ledy Soffiani dengan sambutannya menyampaikan Kader Lansia Kota Solok sudah banyak berperan aktif, dapat dilihat telah terbentuknya 36 posyandu lansia berkat inisiatif dan kemauan serta dorongan bimbingan petugas kesehatan Puskesmas dan melaksanakan kegiatannya sesuai kebutuhan serta ketersediaan sarana/prasarana.

“Keberadaan Posyandu Lansia di Kota Solok merupakan wujud nyata dan cerminan kebutuhan masyarakat khususnya pada usia lanjut terhadap pelayanan terjangkau, berkelanjutan dan mutu dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdayaguna dan produktif selama mungkin,” tutur Pepy.

Sosialisasi dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan usia lanjut dalam mencapai masa tua bahagia dan berdaya guna, juga meningkatkan pengetahuan kader lansia tentang bagaimana kesehatan lansia. Selain itu juga untuk meningkatkan pengetahuan kader terkait masalah kesehatan yang dialami oleh usia lanjut dalam rangka pemberian pelayanan kesehatan usia lanjut, meningkatnya mutu pelayanan kesehatan usia lanjut, dan kader lansia juga lebih banyak mengetahui tentang bagaimana kesehatan lansia tersebut.

Sri Zilwardati, SKM menyampaikan tentang perubahan fisiologi pada Lansia, masalah gizi pada lanjut usia yakni terjadi kegemukan, KEK, kekurangan zat gizi mikro, penyakit kronik degeneratif. Juga menjelaskan tentang penentuan dan penilaian status gizi pada lansia (berat badan, tinggi badan, panjang depa, tinggi lutut, tinggi duduk, Lingkar lengan atas). Bagaimaana pelayanan gizi usia lanjut seperti kebutuhan energi, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan cairan serta prinsip gizi seimbang.

dr. Reno Sari Chaniago, Sp.S meyampaikan tentang apa yang dimaksud menua, teori proses menua, peluang menghambat penuaan, faktor risiko penuaan dan penyakit yang mungkin timbul, beberapa penyakit saraf pada usia lanjut yakni demensia, stroke, dan parkinson.

Dengan diadakan sosialisasi ini nantinya kader-kader yang telah diberikan pengarahan serta melaksanakan dan melakukan pembinaan kesehatan terhadap lansia dengan upaya secara promotif, preventif, dan kwalitatif. Sehubungan dengan itu kader juga perlu mengetahui tentang bagaimana penilaian status gizi lansia nantinya. (ig)