Batamek Pidato Adat Kota Solok

Batamek Pidato Adat Kota Solok

Solok, (MC Kota Solok) – Sebanyak 70 orang ahli pidato yang berasal dari 18 panggung adat di Kota Solok diwisuda “Batamek Pidato Adat”, bertempat di Gedung Kubung 13, Minggu (10/12).

Semua ahli pidato adat tersebut terlebih dahulu diarak dan diperkenalkan kepada masyarakat dengan pawai yang diikuti juga oleh ratusan Bundo Kanduang Kota Solok dari Taman Syech Kukut – Simpang Poliguna – Lubuk Sikarah dan finish di Gedung Kubung 13.

Wakil Walikota Solok Reinier menyebutkan, panggung pidato merupakan hal yang sangat penting dilakukan, karena akan bisa melestarikan budaya pidato kepada anak kemenakan.

“Kami berharap acara ini bukan hanya seremonial belaka, kami yakin ilmu yang sudah didapat belum sepenuhnya sempurna, maka dari itu perlu pematangan, harus selalu berlatih dan berlatih kedepannya,” sebut Reinier.

Reinier juga mengaku bangga dengan Niniak Mamak dan Bundo Kanduang Kota Solok. Hal itu karena, hanya Kota Solok satu-satunya di Minangkabau yang melakukan kegiatan Batamek Pidato Adat sebesar kegiatan kita kali ini.

“Inii tentunya menjadi kekuatan besar bagi kita, jika keramah tamahan Kota Solok kita jaga maka akan membuat orang senang berkunjung ke Kota Solok. Ini harus dijaga dan dipelihara terus,” ujarnya.

Reinier menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar- besarnya kepada LKAAM dan Bundo Kanduang, serta Tuo-tuo Panggung yang telah melatih anak kemenakan di Kota Solok.

Sementara itu, Ketua LKAAM Sumatera Barat yang diwakili Datuak Putih mengungkapkan rasa terima kasih kepada Ninik Mamak, Bundo Kanduang dan LKAAM Kota Solok yang telah mengadakan kegiatan yang meriah ini

Datuak putih menjelaskan, pada zaman dahulu pidato adat sama dengan persembahan yang berisi kata- kata penghormatan, kata-kata indah, isi yang jelas dan penutup. Itu yang harus dilestarikan. Kelengakapan bagi seorang yang menyampaikan pidato pasambahan ialah harus pakai deta bacincin.

Di Minangkabau terdapat 3 jenis silek dalam kehidupan. Yang pertama silek aka (akal) yaitu pemikiran sehari-hari, yang kedua silek lidah yaitu pidato pasambahan, dan yang ketiga silek kaki jo tangan yang biasa dilihat dalam sasaran-sasaran silek. (Deni).

Tags: , ,