Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan Kota Solok Dinilai Tim Provinsi

Solok, (InfoPublikSolok) – Sekretaris Daerah Kota Solok Rusdianto, SIP, MM menerima kedatangan Tim Penilai Provinsi Sumatera Barat dalam rangka Penilaian Kesatuan Gerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Keluarga Berencana (KB), dan Kesehatan Kota Solok Tahun 2018, Kamis, (29/11) bertempat di Kantor Camat Tanjung Harapan Kota Solok.

Hadir pada kesempatan itu, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Kota Solok, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Solok M. Safni, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Delfianto, Perwakilan Ketua TP PKK Kota Solok Ny. Ria Rusdianto, Camat, Lurah serta Panitia Pelaksana Kesatuan Gerak PKK-KB-Kes Solok.

Tim penilai Tingkat Provinsi Sumatera Barat diketuai oleh Khalidah, SE dengan membawa rombongan Dedi Agus Panto dari BKKBN Sumbar, Syamsu Aprizal dari Dinas Kesehatan Sumbar, dan Nelfrides dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana (KB), Penduduk dan Pencatatan Sipil Sumbar

Ketua tim penilai Khalidah, SE mengatakan, penilaian ini bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu hamil, menurunkan angka kematian bayi, meningkatkan partisipasi generasi muda usia produktif dalam Bidang KB, serta mewujudkan lingkungan bersih dan sehat.

Kegiatan ini sudah berjalan selama 24 tahun, dan kegiatan ini apabila dipikul bersama-sama akan membuahkan hasil yang baik untuk seluruh masyarakat. Pada penilaian tahun ini titik fokusnya pada Kampung KB. Penilaian ini juga sekaligus sebagai evaluasi program Kampung KB yang telah dimulai pada tahun 2016 lalu.

“Tentunya kita harapkan program Kampung KB ini dapat meningkatkan semua output program, sehingga masyarakat dapat meningkat pula kesejahteraan dan kesehatannya,” ujar Khalidah.

Sejauh ini, Provinsi Sumatera Barat termasuk salah satu provinsi terbaik dalam pelaksaan kegiatan Kampung KB di Indonesia. “Mudah-mudahan pada tahun ini banyak nominasi nasional dari Provinsi Sumatera Barat, termasuk Kota Solok,” sebutnya.

Sementara itu, Sekda Kota Solok, Rusdianto mengucapkan selamat datang di Kecamatan Tanjung Harapan. Kesatuan gerak PKK KB Kesehatan ini merupakan suatu rangkaian keterpaduan dalam rangka menyambut Hari Kontrasepsi Sedunia tanggal 26 September, dan Hari Kesehatan Nasional tanggal 12 November dan Hari Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan tanggal 27 Desember.

Pemberdayaan keluarga menjadi titik tolak dari tujuan akhir kegiatan ini, dimana kita bisa membuat masyarakat terbiasa untuk menciptakan lingkungan bersih dan sehat, membentuk perilaku hidup bersih dan sehat, mengendalikan jumlah kelahiran sehingga akan berdampak terhadap penurunan angka kematian ibu, mengurangi kemiskinan melalui pemberdayaan ekonomi keluarga serta menciptakan lingkungan kota yang sehat dan indah.

Lebih lanjut, Rusdianto menyebutkan, selama kegiatan Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan ini dicapai peningkatan capaian peserta KB baru sebanyak 80%. Meningkatnya pelayanan kesehatan dengan tidak terjadinya kematian ibu, menurunnya angka kematian bayi, dan meningkatnya kesehatan lingkungan serta membatasi jumlah kelahiran melalui pembangunan berwawasan kependudukan.

“Sehingga melalui kegiatan ini dapat meningkatkan peranan keluarga dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas,” tutup Rusdianto. (Dn)

Dinkes Selenggarakan Sosialisasi Tentang TB

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi tentang penyakit TB (Tuberkulosis) pada masyarakat Kota Solok. Acara yang dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 26-27 november 2018 di aula Puskesmas Tanjung Paku dan Puskesmas Tanah Garam. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh kasi P2P, Hj. Dice farida beserta stafnya. Narasumber pada acara ini disampaikan oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru dari IDI Kota Solok dan Hj. Dice Farida dari Dinas Kesehatan Kota Solok. Jumlah peserta dalam acara sosialisasi ini sebanyak 130 orang terdiri dari masyarakat Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan.

Acara ini dibuka oleh kasi P2P yakni Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya sosialisasi ini agar Masyarakat dapat mengetahui tentang apa itu Tuberkulosis, bagaimana upaya masyarakat untuk pencegahan peningkatan kasus TB, masyarakat juga mampu mendeteksi dini anggota keluarga atau masyarakat di lingkungannya yang menderita TB, agar masyarakat bisa berinisiatif sendiri untuk memeriksakan dugaan TB ke puskesmas terdekat. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang langsung disebabkan oleh kuman TBC (Mycobaketerium tuberculosis). Pada penyakit tuberkulosis jaringan yang paling sering diserang adalah paru-paru (95,9 %), tetapi dapat juga mengenai tubuh lainnya. Gejala yang biasanya muncul adalah demam, batuk darah, batuk yang biasanya berlangsung lama dan produktif yang berdurasi lebih dari 3 minggu. Tuberkulosis merupakan penyakit lama yang masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular. Ada beberapa penyebab utama meningkatnya beban masalah TB yaitu kemiskinan, kondisi sanitasi, papan, sandang dan pangan yang buruk, beban determinan social yang masih berat, dan kegagalan program TB yang masih kurang berhasil, dan masalah kesehatan lain seperti gizi buruk, merokok, DM dan HIV.

Dilanjutkan dengan pemberian materi pertama langsung oleh Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan apa yang dikatakan tentang tuberkulosisi (TB), apa saja tanda dan gejala dari TB tersebut yang lebih utama adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih, dan gejala lainnya batuk bercampur darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan berkurang, berat badan turun, rasa kurang enak badan (lemas), demam meriang berkepanjangan, berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan. Bagaimana penularan dari TB tersebut, apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui masyarakat yang mengalami TB, bagaiamana pengobatannya, serta apa efek samping bila meminum obat TB. Serta bagaimana cara pencegahan dari penularannya.

Selanjutnya pemberian materi kedua oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru, beliau menyampaikan bagaiaman cara peningkatan kader dalam menghadapi klien yang menderita penyakit TB, bagaiamana alur penjaringan suspek oleh kader. Kebijakan Operasional
Penanggulangan Tb Nasiona, aba beberapa strategi yang dilakukan untuk penanggulangan TB yakni Paradigma sehat, Peningkatan mutu pelayanan. Apa saja faktor yg mempengaruhi seseorang menjadi penderita TB. Perjalanan alamiah yg tidak diobati. Harapan dilaksanakannya sosialisasi ini nantinya agar masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang Tuberkulosis, Program pengendalian TB serta hal-hal lain yang mendukung terselenggaranya pelayanan pengendalian TB. Pelaksanaan Program TB telah berjalan cukup baik di Kota Solok, namun masih belum memenuhi target Nasional. (ig)

Aisyiyah Berikan BMT Bagi Pasien TB Kota Solok

Solok, (InfoPublikSolok) – Community TBC-HIV Care Aisyiyah Kota Solok menggelar kegiatan penyaluran Bantuan Makanan Tambahan (BMT) yang berlangsung pada hari Minggu,25 November 2018 yang diantarkan langsung ke rumah pasien TBC temuan Aisyiyah tahun 2018 di Kota Solok.

Kegiatan ini di buka langsung oleh Kepala SSR TBC-HIV Care Aisyiyah Kota Solok ibu Ns. Hj. Murhayeni, S.Kep di aula Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Solok yang dihadiri oleh para pelaksana program dan kader.

Kegiatan ini diawali dengan arahan dan mekanisme penyaluran BMT kepada pasien TBC. Kader dibagi menjadi beberapa tim untuk menyalurkan BMT ke rumah pasien. Pemegang program juga ikut menyalurkan bantuan ke rumah pasien.

Menurut Murhayeni, Ide pemberian BMT ini berawal dari kegiatan komunitas TBC Aisyiyah pada Bulan September 2018 yang mengundang Baznas, Pengusaha dan kader Community Aisyiyah Kota Solok, Untuk membicarakan perihal pendanaan dan bantuan untuk pasien TBC. Dalam pertemuan itu diperoleh dana sekitar  5 juta sesuai target kegiatan yang digunakan untuk BMT dan operasional penyuluhan kader. Bantuan ini dibuat dengan berbentuk paket berisi telur, susu, minyak goreng, gula dan kacang hijau, sebanyak 24 paket. “Bantuan ini diharapkan dapat memotivasi pasien untuk lebih sehat dan gizinya terpenuhi dengan baik,” harap Murhayeni.

Seusai pembukaan, tim Aisyiyah dan kader langsung menyerahkan bantuan paket pertama kepada pasien di Kelurahan Tanah Garam. Di Kelurahan ini ada 7 orang, kemudian menyusul ke Kelurahan Nan Balimo sebanyak 5 orang, Kelurahan Simpang Rumbio 1 orang, Kelurahan Pasar Pandan Air Mati 2 orang, Kelurahan Sinapa Piliang 1 orang, Kelurahan Tanjung Paku 3 orang, Kelurahan KTK 1 orang, Kelurahan VI Suku 3 orang serta Kelurahan Kampung Jawa 1 orang. (eg)

Peringati Hari Kesehatan Nasional Ke-54: Dinas Kesehatan Gelar Sosialisasi

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi dan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara dalam rangkaian pencanangan Inspeksi Visual Asamasetat (IVA) memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke-54 pada masyarakat Kota Solok, selama dua hari tanggal 21-22 November 2018 bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok dalam hal ini diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P dr. Pepy Lady Soffiany, dengan menghadirkan narasumber dr. Helwi Nofira, Sp.OG dan dr. Vandra Bina Riyanda, Sp. B dari IDI Kota Solok serta Hj. Dice Farida Kasi P2P Dinas Kesehatan Kota Solok. Peserta pada acara sosialisasi ini terdiri dari tokoh masyarakat, organisasi wanita, bundo kanduang dan masyarakat yang sudah menikah.

Hj. Dice Farida, menyampaikan “Penekanan deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara di masing-masing kelurahan yang ada di Kota Solok. Masyarakat Kota Solok juga perlu mengetahui penting mendeteksi dini kanker leher rahim dan payudara ini bagi yang telah menikah usia 20-50 tahun kepuskesmas terdekat,” katanya.

dr. Pepy dalam sambutanya mengatakan “dengan mendeteksi secara dini faktor resiko kanker payudara dan kanker leher rahim melalui metode IVA meningkatkan upaya pengendalian faktor resiko kanker terutama pada kelompok masyarakat beresiko dan cara meningkatkan cakupan deteksi dini kanker di Kota Solok, saat ini cakupannya baru 40%,” ungkapnya.

dr. Helwi Nofira, Sp.OG, dalam pemaparannya menjelaskan “Kanker adalah penyakit tumor ganas yang dapat menyebar (metastasis) ke organ-organ yang lain dan menyebabkan kematian. Kanker servik adalah kanker yang menyerang leher rahim. Deteksi ini dapat mengurangi jumlah kematian akibat kanker karena jika kanker ditemukan pada stadium paling dini biasanya dapat diobati sebelum menyebar lebih jauh,” jelasnya.

Lanjutnya, IVA bertujuan untuk mengurangi morbiditas atau mortalitas dari penyakit dengan pengobatan dini terhadap kasus-kasus yang ditemukan. Dengan IVA dapat diketahui kelainan yang terjadi pada leher rahim. Keuntungan IVA  dibandingkan dengan tes-tes diagnosa lainnya, lebih mudah, praktis, dapat dilaksanakan oleh seluruh tenaga kesehatan, alat-alat yang dibutuhkan sederhana, sesuai untuk pusat pelayanan sederhana,” kata dr Helwi.

“Kanker Payudara (KPD) adalah keganasan pada jaringan payudara yang dapat berasal dari epitel duktus maupun lobulusnya. Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker terbanyak di Indonesia. Pengobatan kanker payudara dapat dilakukan secara medis. Pengobatan medis terdiri dari pembedahan, terapi penyinaran, dan kemoterapi dan obat penghambat hormon. Dengan menemukan adanya kanker secara dini maka kanker tersebut masih dapat disembuhkan, untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas akibat kanker,” terang  dr. Vandra Bina Riyanda, Sp.B.

Dengan dilaksanakannya sosialisasi ini nantinya masyarakat Kota Solok diharapkan mau memeriksakan deteksi dini dengan IVA difasilitas pelayanan kesehatan masing-masing dan dapat terhindar dari yang namanya kanker leher rahim dan kanker payudara serta pentingnya deteksi dini ini untuk menjaga kesehatan reproduksi wanita. (ig)

HARKANNAS Ke-5 : “Dengan Protein Ikan, Kita Membangun Bangsa”

Jakarta, (InfoPublikSolok) – Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki potensi perikanan yang harus dimanfaatkan secara optimal dan lestari untuk bangsa, terutama dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mendukung ketahanan pangan dan gizi nasional.

Ketahanan pangan nasional serta pemenuhan gizi masyarakat, terutama protein, telah menjadi perhatian serius pemerintah. Berbagai upaya pun terus dilakukan, salah satunya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ikan sebagai bahan pangan yang mengandung protein berkualitas tinggi.

Oleh karena itu, guna mendorong tingkat konsumsi ikan di Indonesia, pemerintah telah menetapkan Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) yang diperingati setiap tanggal 21 November. Peringatan HARKANNAS tersebut kini sudah memasuki tahun kelima, sejak ditetapkan melalui Keppres Nomor 3 Tahun 2014 pada tanggal 24 Januari 2014.

Tahun ini, peringatan HARKANNAS mengusung tema “Dengan Protein Ikan, Kita Membangun Bangsa”. Hal ini menunjukkan bahwa pangan dan gizi adalah hal yang saling terkait dan saat ini masih menjadi masalah nasional yang perlu diselesaikan.

Adanya kasus gizi ganda (kelebihan dan kekurangan gizi), stunting, dan lain-lain adalah contoh beberapa masalah yang dihadapi Bangsa Indonesia yang erat kaitannya dengan kecukupan pangan dan gizi. Sehingga ikan sebagai bahan pangan yang mudah diproduksi dalam berbagai skala dan bergizi tinggi  diharapkan mampu menjadi solusi atas masalah tersebut.

Untuk memeriahkan peringatan Harkannas Ke-5, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak kepada seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) agar secara serentak dan bersama-sama mengkonsumsi ikan pada tanggal 21 November 2018, turut menyemarakkan HARKANNAS lingkungan kantor Pemerintah Daerah, dan menyelenggarakan pertemuan Forikan Daerah, workshop, bazar perikanan, lomba masak, festival kuliner ikan, dan lain-lain.

Sedangkan di tingkat pusat, dilakukan serangkaian kegiatan sejak tanggal 21 November hingga 8 Desember 2018 meliputi talkshow, kuliner ikan gratis, lomba inovasi menu masakan ikan, bazaar perikanan, hingga pada Puncak Peringatan HARKANNAS ke-5 pada tanggal 7 Desember 2018 di JCC Senayan Jakarta, yang akan diawali dengan Lomba Masak Serba Ikan Tingkat Nasional ke-16, bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Pusat yang diikuti perwakilan juara dari 34 provinsi.

Melimpahnya Indonesia akan berbagai jenis ikan perlu kita syukuri. Salah satunya dengan memanfaatkannya sebagai bahan konsumsi dalam negeri. Ikan sangat sehat dan mengandung banyak protein yang baik bagi tubuh kita. Jangan sampai manfaat ikan hanya dirasakan orang luar yang mengimpor ikan dari Indonesia, namun bangsa sendiri lupa menikmatinya,” tutur Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.

Tak berlebihan, komoditas perikanan Indonesia memang sudah terkenal hingga mancanegara. Setidaknya ada 3 komoditas unggulan perikanan Indonesia, yaitu udang, tuna dan patin. Tercatat, nilai ekspor udang dan tuna sampai dengan September 2018, menduduki posisi tertinggi pertama dan kedua dibanding komoditas utama produk perikanan lainnya sebesar USD 1.302,5 juta (37%) dan USD 433,6 juta (12,3%). Terjadi kenaikan nilai dibandingkan periode yang sama tahun 2017 sebesar 4% untuk udang dan 21,9% untuk tuna. Sedangkan Patin Indonesia dengan brand “Indonesian Pangasius – The Better Choice”, yang baru saja diluncurkan saat ajang pameran SEAFEX di Dubai pada 30 Oktober 2018, diprediksi dapat memenangkan pasar dunia. Alasannya, patin Indonesia memiliki keunggulan karena dikembangkan dengan probiotik dan dibudidayakan dalam kolam dengan air tanah yang bersih, juga dengan kepadatan yang lebih rendah dibandingkan negara lain.

Diharapkan, peringatan HARKANNAS ini dapat menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama dan membangun koordinasi fungsional yang efektif dengan seluruh komponen pemerintah dan masyarakat, serta menjadikan ikan sebagai salah satu solusi dalam penanganan permasalahan gizi masyarakat. Sehingga ikan dijadikan sumber protein yang selalu hadir di dalam menu keluarga guna mendukung upaya-upaya peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia (Nawacita 5), dan meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing bangsa (Nawacita 6), serta mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, khususnya sektor kelautan dan perikanan (Nawacita 7).

Dengan konsumsi protein ikan yang cukup, masyarakat Indonesia diharapkan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Generasi yang sehat, kuat, dan cerdas adalah modal utama dalam membangun bangsa Indonesia ke depan. (Biro Humas dan Kerjasama Luar Negeri Kementerian Kelautan dan Perikanan didukung oleh Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo).

Dinas Kesehatan Gelar Sosialisasi Bahaya Rokok Kepada Duta Anti Rokok Se-kota Solok

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan Sosialisasi Bahaya Rokok Kepada Duta Anti Rokok se-Kota Solok di aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Senin (19/11).

Acara tersebut menghadirkan narasumber Hafrizal, SKM.M.Kes dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Azizurrahman, S.Sos Badan Narkotika Nasional (BNN) Kab. Solok, dan dr. Wafda Aulia, Sp.Paru dari IDI Kota Solok, yang diikuti sebanyak 150 orang peserta terdiri dari Duta Anti Rokok mahasiswa dan anak sekolah se-Kota Solok.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P, dr. Pepy Lady Soffiany dalam sambutannya menyampaikan acara ini tujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta tentang bahaya rokok dan napza serta mampu melaksanakan sosialisasi pada teman sebaya untuk melakukan konseling untuk berhenti merokok difasilitas pelayanan kesehatan primer.

Azizurrahman, narasumber dari BNN menyampaikan kebiasaan merokok bagi masyarakat Indonesia merupakan salah satu masalah kesehatan, karena konsumsi rokok yang masih cenderung tinggi. Sementara beban biaya yang diakibatkan oleh penyakit yang disebabkan oleh rokok dan dapat menimbulkan terjadinya Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti gangguan pernafasan, penyakit jantung koroner, stroke, dan kanker paru, ini bukan hanya dari biaya pengobatan tetapi juga biaya hilangnya hari atau waktu produktivitas.

“Bagi dunia pendidikan, tak ada tantangan paling menyeramkan dalam siklus belajar mengajar kecuali perilaku siswa yang terus merosot karena banyak kasus perilaku merokok pada pelajar hampir bisa dipastikan 90% kebiasaan merokok siswa muncul bukan disebabkan keinginan pribadi, melainkan pengaruh kelompok,” jelas Azizurrahman.

Selanjutnya Hafrizal dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menyampaikan tentang kebijakan dan strategi penyakit tidak menular dan rokok serta kawasan tanpa rokok dalam upaya berhenti merokok di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) dan sekolah sebagai tindak lanjut Peraturan Pemerintah RI No.109 Tahun 2012.

“Pelayanan terpadu Penyakit Tidak Menular pada FKTP masih terbatas, karena masih belum mampu menjalankan peran sebagai “gate keeper”, masih tingginya “missing opportunity” karena tidak terdeteksinya faktor risiko penyakit tidak menular. FKTP fokus membantu perokok untuk berhenti merokok (konseling), membangun motivasi, dan menciptakan lingkungan yang mendukung. Sedangkan pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) rawat tingkat lanjut memberikan konseling lanjutan, serta pengobatan spesialistik,” ungkap Hafrizal.

Wafda Aulia, Sp.Paru, memaparkan tentang bagaimana pelayanan klinik berhenti merokok, apa yang dimaksud dengan rokok, apa-apa saja kandungan yang terdapat didalam rokok, apa saja yang membuat sulit berhenti merokok dan apa manfaatnya setelah berhenti merokok. Apa prinsip-prinsip upaya dalam berhenti merokok, bagaimana konseling untuk yang belum mau dan yang mau berhenti merokok, serta cara dan langkah berhenti merokok.

Dengan sosialisasi ini diharapan Duta Anti Rokok yang hadir dapat menjadi penyuluh untuk teman sebayanya, serta sebagai upaya pendekatan pada teman sebaya untuk menjalin komunikasi efektif bagi para pelajar yang merokok untuk dapat dirangkul oleh duta tersebut agar dapat menjauhi rokok serta mendapatkan layanan konseling upaya berhenti merokok di Puskesmas Se-Kota Solok. (ig)

Dinas Kesehatan Sosialisasikan Pelayanan Ramah Anak

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi pelayanan ramah anak bagi petugas puskesmas se Kota Solok di aula Puskesmas Tanah Garam Kota Solok, Selasa (13/11). Acara ini hadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan dalam hal ini diwakili oleh Kepala Bidang Kesmas dan P2P, dr. Pepy Lady Soffiany, Kasi Kesga dan Gizi Masyarakat, Ns. Aprinur Azwira, S.Kep beserta jajarannya, Narasumber yang hadir pada acara ini yaitu Kepala Seksi Pengasuh Alternatif Pendidikan Kesehatan dan Kesejahteraan DPPA Prov. Sumbar yakni Nelwetis, SKM.MPH. Jumlah peserta pada sosialisasi ini sebanyak  25 orang yang terdiri dari petugas puskesmas.

Acara yang dibuka oleh dr. Pepy Lady Soffiany, beliau menyampaikan, “Bahwa program peningkatan pelayanan kesehatan anak terdiri dari beberapa macam kegiatan salah satu kegiatannya pelayanan ramah anak dipuskesmas. Pelayanan ramah anak yang dimaksud adalah upaya yang dilakukan puskesmas berdasarkan pendekatan pemenuhan hak asasi anak, dengan empat prinsip yaitu non diskriminasi, kepentingan terbaik bagi anak, hak untuk hidup, dan perkembangan anak serta penghargaan terhadap pendapat anak. Selain itu telah dilakukan pelayanan ramah anak dipuskesmas secara komprehensif, mencakup komponen kelembagaan (SDM dan Data), sarana dan prasarana dan komponen pelayanan,” paparnya.

“Tujuan diadakannya sosialisasi ini yakni petugas puskesmas dapat meningkatkan pemahaman tentang pentingnya mengembangkan pelayanan ramah anak dipuskesmas, dan meningkatnya pemahaman tentang langkah pengembangan pelayanan ramah anak di Puskesmas,” tambah dr. Pepy.

Dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Nelwetis, SKM.MPH yang menyampaikan, “Tentang kebijakan pelayanan ramah anak dipuskesmas dalam upaya percepatan kota layak anak. Pelayanan rumah anak ini adalah upaya atau pelayanan yang dilakukan berdasarkan pemenuhan, perlindungan dan penghargaaan atas hak-hak anak. Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan terdepan menjalankan kewajiban atau kebijakan Negara dalam pembangunan kesehatan yang berbasis wilayah. Memberikan pelayanan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan dan pemulihan berperan dalam pemberdayaan orang tua, keluarga dan masyarakat sebagai pusat informasi, paham dan mampu memenuhi hak kesehatan anak. Pengertian anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anaka yang masih dalam kandungan pasal 1 UU No. 23/2002 tentang perlindungan anak. Sedangkan hak anak adalah bagian dari HAM yang wajib dijamin dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan Negara.  Indikator dari pelayanan ramah anak yakni SDM terlatih KHA, pusat informasi hak anak atas kesehatan, ruang bermain anak, penjangkauan kesehatan anak disekolah, LPSA, LPKA, dan PAUD-HI, tata laksana KTA, tersedia Ruang Asi, kawasan tanpa rokok dan sanitasi lingkungan yang sesuai standar,” jelas Narasumber panjang lebar.

Harapan setelah kegiatan ini adalah Kepala Puskesmas atau pengelola puskesmas yang bertanggung jawab diberi informasi tentang pengembangan puskesmas dengan pelayanan ramah anak, selanjutnya diharapkan mensosialisasikannya kepada seluruh tenaga kesehatan dipuskesmas. Dapat menyusun rencana kegiatan meliputi penyesuaian dan menyediakan sarana fisik dan peralatan untuk pelayanan kesehatan bagi anak, memastikan petugas dilatih tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak, menggerakkan seluruh kegiatan agar intensif, membentuk atau membina dan mengembangkan UKM, memberdayakan orang tua serta keluarga dan masyarakat, membangun jejaring dengan para pemangku kepentingan, dan memastikan kelengkapan sarana dan prasarana pendukung. (ig)

DinKes Gelar Pelatihan Pemanfaatan Toga dan Akupresure

Solok (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok  menyelenggarakan pertemuan koordinasi tingkat Kota dan Kecamatan tentang pemanfaatan toga dan akupresure di Aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Kamis (13/11). Acara yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kepala Bidang Pelayanan Promosi Sumber Daya Kesehatan dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes. Acara ini diikuti oleh Kepala Seksi Yankes (Pelayanan Kesehatan) Ns. Hartini, S.Kep. M.Biomed dan 90  orang peserat  yang terdiri dari seluruh pemegang program per puskesmas, PKK Kota Solok, PKK Kecamatan, PKK Kelurahan, dan seluruh kader toga kelurahan. Narasumber pada acara Pelatihan ini  adalah Yulia Fitria, Spd. MM dan Eka Fitria, SKM, yang merupakan Kasi dan staf seksi Yankestrad Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat. Dalam sambutannya dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes mengatakan bahwa “Pertemuan ini dilaksanakan untuk meningkatkan pengetahuan petugas kesehatan se Kota Solok, PKK dan kader toga tentang pengetahuan TOGA dan Akupresure dan mampu melakukan penyelenggara TOGA dan Akupresure secara baik, tersendiri atau terpadu pada sistem pelayanan kesehatan paripurna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal,” jelas Kabid PPSDK ini.

Dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Yulia Fitria, Spd. MM, beliau menyampaikan “Tentang apa yang dimaksud dengan Toga  (Tanaman Obat Keluarga) adalah sebidang tanah di halaman atau ladang yang dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang mempunyai hasil obat. Toga juga merupakan tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Tanaman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik dihalaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Budidaya Toga dapat memacu usaha kecil dan menengah dibidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.” Ujarnya.

Dalam rangka mendukung program pemanfaatan Toga dan Akupresure dan mengoptimalkan penerimaan informasi oleh masyarakat, maka dari itu Tim penggerak pemberdayaan kesejahteraan keluarga (TP PKK) bekerja sama dengan instansi telah melakukan inovasi pengembangan dan budidaya Toga dan Akupresure dengan jenis dan pemanfaatan Toga dengan jenis beragam. Permasalahan umum yang dihadapi dalam kegiatan pengembangan pemanfaatan Toga merupakan sebagian dari permasalahan yang dihadapi bidang pertanian dan upaya penganekaragaman konsumsi pangan berbahan lokal antara lain yakni belum tercapainya skor keragaman dan keseimbangan konsumsi pangan dan gizi sesuai harapan yang selama ini pencapaiannya masih berjalan sengat lambat dan cenderung fluktuatif, cukup tingginya kesenjangan mutu gizi konsumsi pangan antara masyarakat Desa dan Kota, adanya kecenderungan penurunan proporsi pangan berbasis sumber daya lokal, lambatnya perkembangan dan penyebaran teknologi pengobatan pangan lokal untuk meningkatkan ke praktisan dalam pengobatan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial citra dan daya terima, masih belum optimalnya pemberian intensif bagi dunia usaha dan masyarakat yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal, kurangnya fasilitas pemberdayaan ekonomi untuk meningkatkan aksesibilitas pangan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Harapan dilaksanakannya pertemuan ini nantinya petugas maupun PKK dan kader dapat mengembangkan tanaman obat keluarga (TOGA)  dilingkungan rumah serta dapat mengetahui apa itu Akupresure dan dapat di laksanakan dan dimanfaatkan untuk keluarga maupun masyarakat sekitar kita. (ig)

Dinas Kesehatan Gelar Monev JKN-KIS Bagi Petugas Puskesmas

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok menyelenggarakan monitoring dan evaluasi Program Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) bagi 40 orang petugas Puskesmas dan Pengelola program di aula Dinas Kesehatan Kota Solok, Kamis (8/11).

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok diwakili Kabid PPSDK, dr. HiddayaturrahmI, M.Kes. Turut hadir pada kegiatan ini dari pihak BPJS Kesehatan Cabang Solok yang diwakili Eshlich Von Dantes, Marinus Hardi S. dan Neldawati.

dr. Hiddayaturrahmi, M.Kes, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini untuk menyamakan persepsi dalam pelaporan JKN, mengetahui kendala dalam pelaksanaan JKN di Puskesmas, serta memahami permasalahan data dan dalam rangka untuk menjadikan kota Solok sebagai kota UHC (Universal Health Coverage).

Selanjutnya Narasumber Ehslich Van Dantes dalam materinya mengatakan JKN merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran (non PBI) atau iurannya dibayar oleh Pemerintah (PBI).

Untuk PBI bagi masyarakat kurang mampu di kota Solok dibantu oleh jaminan JKN/KIS dari Pemerintah Pusat sejumlah 15.015 jiwa sedangkan yang dibayarkan oleh Pemda Kota Solok dan Provinsi Sumbar Jaminan Kesehatan Sumbar Sakato (JKSS) sebanyak 11.432 jiwa. Sedangkan yang dibayarkan oleh Pemda Kota Solok / PBI Kota Solok sebanyak 7.254 jiwa. Adapun untuk masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan, Dinas Kesehatan kota Solok sudah berupaya untuk memberikan melalui Jamkesko, namun masih benyak warga yang belum mendaftarkan diri.

Narasumber berikutnya dari BPJS Kesehatan Cabang Solok, Marinus Hardi S. menjelaskan jaminan sosial merupakan perlindungan yang dirancang oleh pemerintah untuk melindungi warga negara terhadap resiko kematian, kesehatan, pengangguran, kemiskinan, pensiun dan kondisi pekerjaan yang tidak layak.

Pemerintah juga mengembangkan program asuransi kesehatan secara nasional sampai tercapainya UHC pada tahun 2019 yang merupakan sistem kesehatan yang memastikan setiap warga di dalam populasi memiliki akses yang adil terhadap pelayanan kesehatan yang bermutu seperti yang dijamin undang-undang SJSN yang dilaksanakan oleh BPJS. Menghadapi tantangan UHC maka dari itu pemerintah menyusun strategi dengan pengintegrasian Jamkesmas kedalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang akan dikelola secara terpusat oleh BPJS paling lambat 1 Januari 2019 semua masyarakat sudah menjadi peserta BPJS.

Dengan pernyataan ini diharapkan nantinya masyarakat kota solok telah paham tentang JKN serta Petugas Puskesmas dan Pengelola Program bisa bekerja sama untuk menjadikan kota Solok sebagai kota yang telah UHC. (ig)

Tiga Menu Andalan Kota Solok Pada Lomba Cipta Menu Makanan Kudapan Tingkat Provinsi

Padang, (InfoPublikSolok) – Kota Solok berhasil meraih Juara I Lomba Cipta Menu Makanan Kudapan Pemberian Makanan Tambahan kepada Anak Sekolah (PMT-AS) bagi kabupaten/kota se- Sumatera Barat tahun 2018, yang bertempat di Aula Diklat Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Sumatera Barat, Jl. Pramuka No.13 Khatib Sulaiman Kota Padang, Rabu (31/102018).

Ada 3 jenis menu yang dipresentasikan oleh tim kota Solok pada perlombaan ini, antara lain Kudapan Manis yaitu Serut Singkong Nangka Manis, Kudapan Gurih yaitu Martabak Tahu Bijak dan Kudapan Berkuah yaitu Sop Pelangi Komplit.

“Alhamdulillah, berkat izin Allah dan kerjasama tim yang solid kita dapat mencapai keberhasilan ini. Semoga kedepannya kita dapat mempertahankan prestasi yang telah kita capai ini. Sebelumnya kita sudah melakukan practice dan persiapan yang cukup matang untuk perlombaan ini,” sebut Amko Nidra, SKM selaku Kasi Balnak dan Lansia DPPKB Kota Solok.

“Beberapa hari sebelum perlombaan kita sudah mulai mengolah menu yang tepat, menata dan merangkai cara penghidangan, dan yang tidak kalah penting adalah melakukan penghitungan nilai gizi pada setiap hidangan,” ungkapnya.

DPPKB Kota Solok bersinergi dengan TP-PKK Kota Solok serta perwakilan dari SDN 14 Laing yang tergabung dalam satu tim utusan dari Kota Solok mengikuti lomba tingkat provinsi ini. Perwakilan dari DPPKB Kota Solok adalah drg. Ely Suryani (Kabid Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga), Amko Nidra, SKM (Kasi Balnak dan Lansia). Dari POKJA III TP-PKK Kota Solok adalah Ny. Yurmiati, Ny. Septi Nora, Ny. Is Zulfadli, Ny. Elsa Delfianto, dan Ny. Eti Jaralis. Sedangkan dari SDN 14 Laing adalah Sri Herlina dan Nova Yasri Ani. (am)