Dinkes Selenggarakan Sosialisasi Tentang TB

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan Kota Solok selenggarakan sosialisasi tentang penyakit TB (Tuberkulosis) pada masyarakat Kota Solok. Acara yang dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 26-27 november 2018 di aula Puskesmas Tanjung Paku dan Puskesmas Tanah Garam. Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh kasi P2P, Hj. Dice farida beserta stafnya. Narasumber pada acara ini disampaikan oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru dari IDI Kota Solok dan Hj. Dice Farida dari Dinas Kesehatan Kota Solok. Jumlah peserta dalam acara sosialisasi ini sebanyak 130 orang terdiri dari masyarakat Kecamatan Lubuk Sikarah dan Kecamatan Tanjung Harapan.

Acara ini dibuka oleh kasi P2P yakni Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan bahwa tujuan dilaksanakannya sosialisasi ini agar Masyarakat dapat mengetahui tentang apa itu Tuberkulosis, bagaimana upaya masyarakat untuk pencegahan peningkatan kasus TB, masyarakat juga mampu mendeteksi dini anggota keluarga atau masyarakat di lingkungannya yang menderita TB, agar masyarakat bisa berinisiatif sendiri untuk memeriksakan dugaan TB ke puskesmas terdekat. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang langsung disebabkan oleh kuman TBC (Mycobaketerium tuberculosis). Pada penyakit tuberkulosis jaringan yang paling sering diserang adalah paru-paru (95,9 %), tetapi dapat juga mengenai tubuh lainnya. Gejala yang biasanya muncul adalah demam, batuk darah, batuk yang biasanya berlangsung lama dan produktif yang berdurasi lebih dari 3 minggu. Tuberkulosis merupakan penyakit lama yang masih menjadi pembunuh terbanyak di antara penyakit menular. Ada beberapa penyebab utama meningkatnya beban masalah TB yaitu kemiskinan, kondisi sanitasi, papan, sandang dan pangan yang buruk, beban determinan social yang masih berat, dan kegagalan program TB yang masih kurang berhasil, dan masalah kesehatan lain seperti gizi buruk, merokok, DM dan HIV.

Dilanjutkan dengan pemberian materi pertama langsung oleh Hj. Dice Farida, beliau menyampaikan apa yang dikatakan tentang tuberkulosisi (TB), apa saja tanda dan gejala dari TB tersebut yang lebih utama adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 2 minggu atau lebih, dan gejala lainnya batuk bercampur darah, sesak nafas dan nyeri dada, badan lemah, nafsu makan berkurang, berat badan turun, rasa kurang enak badan (lemas), demam meriang berkepanjangan, berkeringat di malam hari walaupun tidak melakukan kegiatan. Bagaimana penularan dari TB tersebut, apa saja pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui masyarakat yang mengalami TB, bagaiamana pengobatannya, serta apa efek samping bila meminum obat TB. Serta bagaimana cara pencegahan dari penularannya.

Selanjutnya pemberian materi kedua oleh dr. Wafda Aulia, Sp. Paru, beliau menyampaikan bagaiaman cara peningkatan kader dalam menghadapi klien yang menderita penyakit TB, bagaiamana alur penjaringan suspek oleh kader. Kebijakan Operasional
Penanggulangan Tb Nasiona, aba beberapa strategi yang dilakukan untuk penanggulangan TB yakni Paradigma sehat, Peningkatan mutu pelayanan. Apa saja faktor yg mempengaruhi seseorang menjadi penderita TB. Perjalanan alamiah yg tidak diobati. Harapan dilaksanakannya sosialisasi ini nantinya agar masyarakat perlu memiliki pengetahuan tentang Tuberkulosis, Program pengendalian TB serta hal-hal lain yang mendukung terselenggaranya pelayanan pengendalian TB. Pelaksanaan Program TB telah berjalan cukup baik di Kota Solok, namun masih belum memenuhi target Nasional. (ig)

Pelatihan Teknologi Pengolahan Jerami Bagi Peternak

Solok, (InfoPublikSolok) – Kota Solok memiliki potensi sebagai sentra peternakan, khususnya sapi potong. Kota Solok sebagai penghasil beras terkenal, menyisakan jerami dari proses pasca panen. Jika satu hektar sawah menghasilkan 12 sampai dengan 15 ton, maka Kota Solok menyisakan 28.350 ton jerami per tahun. Jumlah jerami sebanyak itu bisa menghidupi 1.295 ekor sapi. Dengan demikian, andai saat ini baru 10% jerami yang termanfaatkan maka Kota Solok berpotensi menambah populasi sapi hingga 1.165 ekor dari pemanfaatan jerami.

Sekolah Lapang Teknologi Pengolahan Pakan yang dimulai pada tanggal 14 November 2018. Pada sekolah lapang ini, peternak dibimbing mengolah jerami menjadi pakan ternak yang bernutrisi tinggi dengan fermentasi dan amoniasi. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peternak dari 4 kelompok tani sektor peternakan yaitu Poktan Elok Basamo Kelurahan Aro IV Korong, Poknak Bukik Gombak Kelurahan Tanjung Paku, Poktan Wanita Serba Usaha Kelurahan Tanah Garam dan Poktan Maju Bersama Kelurahan Kampung Jawa sebagai tuan rumah.

Sekolah lapang yang rencananya akan dilangsungkan sebanyak 3 kali pertemuan ini dibimbing oleh Dosen UMMY Solok, Rica Mega Sari, S.Pt, MP, Pada pertemuan pertama tanggal 14 November 2018 dihadiri oleh Kepala Seksi Peternakan, Taufiq Rusli, S.Pt, MM, Kepala Seksi Penerapan Teknologi, Fathoni Abdillah, S.Pt., M.Eng, Koordinator Penyuluh Kota, Nazifah, SP, Penyuluh Wilayah Kampung Jawa, Alfian, SP dan Ricky, SP. M.Si. selaku koordinator lapangan.

Sejak dumulainya sekolah lapang, para peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan oleh pemandu. Rica mengatakan, banyak sisa hasil pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, jerami adalah yang paling banyak tersedia. Selain itu di Kota Solok tersedia sekitar 25 hektar kebun serai wangi. Sisa penyulingan berupa daun serai wangi juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan sapi.

“Sapi membutuhkan pakan hijauan 10% dari berat badannya. Jerami hasil fermentasi bisa dikonsumsi sapi tanpa tambahan nutrisi dari bahan pakan lain. Dengan demikian kebutuhan pakan yang mencapai 60% dari biaya produksi dapat ditekan biayanya agar usaha sapi lebih menguntungkan” Lanjut Rica.

Setelah teori disampaikan, Rica Mega Sari yang telah 11 tahun menjadi tenaga pengajar di UMMY Solok melanjutkan dengan materi dengan praktek. Praktek fermentasi dan amoniasi jerami menggunakan bahan jerami padi, urea, starbio atau M4 dan air. (fa)

Peringati Hari Pangan Sedunia, Pemerintah Optimalisasi Lahan Rawa untuk Pertanian Produktif

Barito Kuala, (InfoPublikSolok) – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian pangan. Salah satunya adalah dengan optimalisasi lahan rawa sebagai lahan suboptimal untuk pertanian produktif, seperti yang menjadi tema utama puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 diselenggarakan di Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 18-21 Oktober 2018.

Tema peringatan tahunan yang jatuh setiap tangga 16 Oktober tersebut, sesuai dengan tema World Food Day tahun 2018 yang diusung oleh organisasi pangan dan pertanian dunia yakni “Our Actions are Our Future, A Zero Hunger World by 2030 is Possible”. Pemerintah bertekad menjadikan lahan rawa sebagai penjamin ketersediaan pangan masa depan, ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan menyusutnya lahan pertanian.

“Optimalisasi lahan rawa adalah bagian dari komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk menjaga kebutuhan pangan kita dengan meningkatkan produktivitas pertanian. Bahkan, untuk visi yang lebih besar yakni lumbung pangan dunia di 2045,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat membuka acara di Barito Kuala pada Rabu (07/10/2018).

Optimisme Amran ini bukan tanpa alasan karena lahan rawa di Indonesia cukup besar namun masih dipandang sebelah mata. Dari data Kementan terlihat luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 34,1 juta hektare yang terdiri dari sekitar 20 juta hektare lahan rawa pasang surut, dan lebih dari 13 juta hektare lahan rawa lebak. Lahan ini tersebar rersebar di 18 provinsi, atau 300 kabupaten/kota.

Dari jumlah itu, 9,52 juta hektare diantaranya bisa dikembangkan untuk pertanian. Potensi ini lebih luas dibandingkan lahan sawah irigasi yang hanya seluas 8,1 juta hektare. Kendala terbesar pemanfaatan lahan rawa terdahulu adalah genangan maupun kekeringan, namun saat ini dapat diatasi dengan pengelolaan tata air dan teknologi penataan lahan.

“Kita buktikan, dengan teknologi, lahan rawa yang dulunya hanya menghasilkan asap saat kemarau, dan tergenang saat hujan kini bisa dipakai petani untuk menghasilkan pangan,” ujar Amran di antara 750 hektare lahan padi rawa yang siap panen di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Barito Kuala yang merupakan proyek percontohan.

Pertanian Modern Lahan Rawa

Amran menunjukkan, bahwa upaya konversi lahan rawa menjadi lahan pertanian ini telah berhasil dikembangkan seluas salah satunya di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan ditargetkan akan ada 4.000 hektare lahan rawa di Kalimantan Selatan hingga akhir tahun 2018 nanti yang sudah jadi lahan pertanian produktif.

Pembukaan lahan rawa ini dilengkapi dengan pembangunan irigasi dan penerapan mekanisasi pertanian modern. Sejumlah tantangan seperti menjaga level air dilakukan dengan pompanisasi, begitu juga pengapuran untuk mengatasi kadar asam yang tinggi, dan beberapa intervensi untuk percepatan lembusukan jerami.

Optimalisasi lahan rawa juga tidak terlepas dari penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi yang adaptif untuk rawa, dipadukan dengan teknologi budidaya yang tepat. Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan berbagai sifat keunggulan termasuk yang banyak dikembagkan antara lain inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, dan padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas adalah Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.

“Peringatan HPS ke-38 tak boleh sekedar seremonial, tetapi harus menjadi momentum penting untuk perkenalkan kepada dunia akan kemajuan teknologi pertanian, terutama keberhasilan Indonesia memanfaatkan lahan rawa pertanian produktif,” tutup Amran.

Sejumlah rangkaian acara mendukung HPS 2018, seperti Pekan Pertanian Lahan Rawa Nasional (PPRN) guna memperkenalkan teknologi dan inovasi lahan rawa untuk pertanian. Termasuk dengan melaunching lunching Taman Sains Pertanian (TSP) Lahan Rawa, Bimbingan Teknis pengelolaan lahan rawa, Gelar Inovasi teknologi Pertanian Lahan, dan Pameran IPTEK dan Inovasi Pertanian Lahan Rawa.

Kegiatan yang juga penting adalah pelaksanaan International Workshop on Tropocal Wetlands: Innovation in Mapping and Managament for Sustainable Agriculture, serta diplomatic tour untuk para duta besar negara sahabat. Semua itu dilakukan agar “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” bukan sekedar tema, tapi implementasi dan kerja nyata. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian didukung oleh Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo)

DPPKB Kota Pekanbaru Kunjungi Kota Solok

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Solok menerima kunjungan dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Pekanbaru, Kamis (11/10/2018). Maksud dari kedatangan rombongan Kota Pekanbaru ini adalah dalam rangka study banding mengenai Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS).

Acara penyambutan dilaksanakan di Aula DPPKB Kota Solok dan dibuka oleh Sekretaris DPPKB Kota Solok, dr. Muhammad Effendy. Dalam penyambutannya beliau menyampaikan maksud kedatangan Tim dari Pekanbaru adalah untuk melihat UPPKS Kota Solok yang juga merupakan UPPKS 3 terbaik se-Sumatera Barat. “Harapan saya UPPKS Kota Solok dapat lebih maju dan mampu meningkatkan perekonomian dan membantu keluarga miskin”, harapnya

Rombongan DPPKB Kota Pekanbaru dipimpin oleh Robert Panjaitan, selaku Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga. Setelah selesai pembukaan penyambutan rombongan di Aula DPPKB Kota Solok, rombongan kemudian diantar ke UPPKS Melati Indah.

UPPKS Melati Indah dalam rangka meningkatkan penghasilan anggota kelompoknya melalui pemanfaaatan galon bekas yang sudah tidak terpakai disulap menjadi pot bungan cantik, lampu dan tempat sampah. (stt/ag)

Pramuka Peduli, Kwarcab Kota Solok Salurkan Bantuan Gempa

Solok, (InfoPublikSolok) –  Gempa 7,4 SR dan tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu, yang mana banyaknya jumlah korban jiwa dan materil. Pramuka Peduli Kota Solok turut bantu meringankan beban saudara-saudara kita yang tertimpa gempa dan tsunami dalam aksi yang dilakukan oleh Satgas Pramuka Peduli yaitu penggalangan dana di jalan raya dan di pasar raya solok serta diadakan bumbung kemanusiaan melalui gudep-gudep yang berpangkalan di sekolah-sekolah se Kota Solok.

Sampai saat ini bantuan sementara yang terkumpul berupa uang sekitar Rp. 60 jt, 20 paket pakaian layak pakai dan 2 paket makanan. Dalam penyaluran Pramuka Peduli bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solok. Bantuan diserahkan kepada BPBD Kota Solok yang diserahkan oleh Kak H. Dahrizal selaku Satgas Pramuka Peduli Kota Solok dan diterima langsung oleh Kepala pelaksana BPBD Kota Solok Bpk Drs. Ori Affilo di Kantor BPBD Kota Solok, Kamis (11/10/2018). Bantuan yang diserahkan berupa 20 paket pakaian layak pakai, 2 paket makanan dan berupa uang Rp. 30 jt. Sisa bantuan juga akan diserahkan oleh Pramuka Peduli Kota Solok kepada Pramuka Peduli Kwartir Nasional yang juga telah membuka posko di Palu.

Sebelumnya Pramuka Peduli Kota Solok juga telah mengirimkan rendang sebanyak 58 kg melalui BPBD Propinsi Sumatera Barat seperti yang diungkapkan Ketua Pramuka Peduli Kota Solok dr. IGM Afridoni Aradita, Sp.A “Rendang sebanyak 58 kilogram ini berasal dari penggalangan dana oleh Satgas Pramuka Peduli Kota Solok yang turun kelapangan pada hari Minggu (30/9/2018) di depan Lapangan Merdeka Kota Solok,” ungkapnya.

“Jumlah dana yang dapat pada hari itu sekitar Rp. 13,5 jt dan dibelikan ke rendang. Kami atas Pramuka Peduli Kwarcab 0310 Gerakan Pramuka Kota Solok mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada masyarakat Kota Solok dan sekitarnya atas bantuan yang telah dipercayakan kepada kami,” tutur Kak Afridoni.

Kak Fauzi, MT selaku koordinator lapangan pengalangan dana menyampaikan “Rendang tersebut telah kita kirimkan ke Sulawesi melalui BPBD Propinsi Sumatera Barat yang diterima oleh Bapak Hendra selaku perwakilan dari BPBD Propinsi Sumbar di Padang, Jumat (5/10) yang lalu,” jelasnya. (js)

Kelurahan Nan Balimo Gelar Sosialisasi ‘STOP BABS’

Solok, (InfoPublikSolok) – Kelurahan Nan Balimo laksanakan sosialisasi Bebas Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS) di Aula Kantor Lurah Nan Balimo, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Rabu (10/10/2018). Kegiatan yang dibuka Sekretaris Lurah Nan Balimo tersebut dihadiri oleh Ketua LPMK, Ketua RT dan RW, Bundo Kanduang, PKK, Tokoh Masyarakat serta Masyarakat yang belum memiliki Mandi Cuci Kakus (MCK) di rumahnya.

Sekretaris Lurah Nan Balimo Rahman Hidayu, S.IP, dalam sambutannya mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu kegiatan non fisik Goro Badunsanak Kelurahan Nan Balimo Tahun 2018. Masyarakat perlu tahu tentang pentingnya menjaga kesehatan yang dimulai dari diri sendiri dan bagaimana seharusnya MCK yang sehat tersebut. Dengan MCK yang sehat, maka lingkungan juga akan sehat.

Ketua LPMK Nan Balimo Drs. H. Suhatmi Tole dalam arahannya menyampaikan bahwa masyarakat yang kurang mampu dibantu oleh Pemerintah Daerah dalam penyediaan MCK mereka yaitu dalam program penyediaan Septic Tank Komunal bagi masyarakat kurang mampu. Perlu kejelasan bagi masyarakat tentang program tersebut serta bagaimana dengan pengelolaan nantinya.

Herdawati, Amd.KL selaku narasumber dari Dinas Kesehatan Kota Solok menyampaikan bahwa masih banyak masyarakat Kota Solok yang masih belum memiliki MCK yang sehat.

“Masih ada masyarakat yang buang air besar ke sungai, tentu ini tidak baik dan sangat mencemari lingkungan. Selain itu juga dapat menyebabkan adanya penyakit baik untuk dirinya maupun untuk orang lain nantinya, Kebiasaan ini harus dihentikan,” tegas Herdawati.

Selanjutnya Kabid PLP Dinas Perumahan dan Pemukiman (Perkim) Kota Solok, Rini Marlina, S.St. M.Si menyampaikan bahwa jamban yang sehat tersebut harus bermuara ke Septic Tank, bukan ke sungai. Septic Tank tersebut umurnya dua tahun dan harus disedot, jika lebih dua tahun berarti sudah ada kebocoran dan tidak sehat lagi.

Selain itu, Rini mengungkapkan, dari Dinas Perkim Kota Solok juga telah melaksanakan program penyediaan Septic Tank Komunal bagi masyarakat kurang mampu, Ia berharap dengan adanya bantuan tersebut, masyarakat dapat memanfaatkannya dan berswadaya lah dalam memeliharanya.

Disisi lain saat ditemui setelah kegiatan berlangsung, Sekretaris Lurah Nan Balimo Rahman Hidayu, S.IP berharap dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat akan menyadari akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak melakukan BAB sembarangan. Kebiasaan yang sehat akan menciptakan lingkungan yang sehat juga, ungkap Rahman mengakhiri. (iid)

Lomba Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Solok, (InfoPublikSolok) – Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Solok mengadakan “Lomba Penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) bagi Pokja IV Kelurahan se Kota Solok”, bertempat di Aula PKK Kota Solok,  Senin (8/10/2018).

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)  adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu,  mau dan mampu nelaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.

Topik lomba PHBS itu diantaranya adalah persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan,  memberikan bayi ASI ekslusif, menimbang bayi dan balita setiap bulan, menggunakan air bersih,  mencuci tangan dengan air bersih dan mengalir pakai sabun, menggunakan jamban sehat,  memberantas jentik di rumah,  makan sayur dan buah setiap hari,  melakukan aktifitas fisik setiap hari dan tidak merokok dalam rumah.

Tim juri terdiri dari 3 orang yang berkopenten dibidangnya,  yaitu dr.  Uswatun Hasanah dan Ns. Zulmaniar Gusti,  S. Kep dari dinas Kesehatan Kota Solok serta Ny.  dr.  Pepy Lady dari Pokja IV Tim Penggerak PKK Kota Solok. Kriteria penilaian lomba didasarkan pada kesesuaian isi presentasi dengan tema,  ketepatan isi materi,  gaya/mimik dan improvisasi,  cara presentasi,  ketepatan waktu dan bahasa yang digunakan saat penyuluhan.

Hasil penilaian memutuskan Juara I Ibu Novi Yeni (Kelurahan Koto Panjang),  Juara II Ibu Eri Andriani (Kelurahan Kampung Jawa)  dan Juara III Ibu Santi Hastuti (KelurahanTanah Garam).

“Pemenang dari lomba penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman, pengetahuan dan menciptakan perilaku hidup bersih dan sehat”, harap Ny.  Asnimar Sekretaris Tim Penggerak PKK Kota Solok.(mf)

Petugas Puskesmas Dibekali Materi Bencana dan Krisis Kesehatan

Solok, (InfoPublikSolok) – Dinas Kesehatan menyelenggarakan rapat koordinasi bencana dan krisis kesehatan bagi petugas kesehatan di aula Dinkes Kota Solok, Rabu (03/9). Acara ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang diwakili oleh Kabid Kesmas dan P2P, dr. Pepy Ledy Soffiany dan Kasi P2P  Hj. Dice Farida beserta staf. Narasumber yang dihadirkan pada acara ini berasal dari BPBD Kota Solok dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, Sebanyak 40 orang peserta yang terdiri dari petugas Puskesmas se- Kota Solok dilibatkan pada kegiatan ini.

Pada pembukaan dr. Pepy Ledy Soffiany menjelaskan bahwa, “Bencana merupakan suatu peristiwa yang dapat mengancam kehidupan masyarakat baik secara luas maupun skala kecil. Akibat bencana tatanan kehidupan masyarakat bisa terganggu dan berbagai aspek kehidupan terancam, termasuk aspek kesehatan masyarakat. Apabila kesehatan masyarakat terganggu akan berdampak pada penurunan bahkan terhenti produktivitas kehidupan. Penanggulangan kesehatan masyarakat akibat bencana, dan bencana itu sendiri secara umum, harus ditangani dengan pendekatan yang berkesinambungan dan komprehensif,”ujarnya.

“Tujuan dari acara ini yaitu mensosialisasikan kebijakan pembangunan Bidang Kesehatan yang berkaitan dengan bencana dan krisis kesehatan di Kota Solok bagi lintas program, memberikan gambaran koordinasi dalam rangka pelaksanaan program dan kegiatan penanggulangan bencana tahun 2018, dapat mensingkronisasikan serta bersinergi dengan program kebencanaan di Kota Solok pada lintas program dan koordinasi dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk wilayah Kota Solok pada tiap-tiap kluster yang ada di Dinas Kesehatan,” tambah dr. Pepy

Dalam pemaparan materi pertama dari BPBD Kota Solok, Agus Susanto, SH yang mengupas bagaimana potensi bencana gempa bumi patahan di Sumatera, mitigasi dan kesiapsiagaannya. Kemudian bagaimana langkah mitigasi yang perlu dilakukan terutama oleh Pemerintah dalam hal ini BPBD, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan serta stakeholder.

Selanjutnya  dr. H. Yanrafiq menjelaskan, tentang kesiapan diri, kesehatan, keamanan dan keselamatan diri.  Bagaimana manajemen tanggap darurat bencana yaitu manajemen umum dan manajemen bencana serta  kedaruratan yakni masalah pokok manajemen kedaruratan, konsep tentang operasi, aspek-aspek teknis sektoral dan kegiatan tanggap darurat. Pelatihan manajemen kedaruratan dan kontinjensi yakni tanggap darurat, sistem komando tanggap darurat bencana, komando tanggap darurat bencana, komando tanggap darurat bencana. fasilitas komando, tanggap darurat bencana. tim reaksi cepat. Mekanisme Penanganan Bencana. Kebijakan penanggulangan bencana di Propinsi Sumatera Barat.

Andi Kurniawan menambahkan tentang sistem informasi kebencanaan. “Bahwa dalam penanggulangan bencana, pertolongan pertama yakni Pemberian pertolongan segera kepada penderita sakit atau cedera/ kecelakaan yang memerlukan penanganan medis dasar. Tindakan perawatan berdasarkan ilmu kedokteran yang dapat dimiliki oleh awam atau awam terlatih secara khusus. Batasannya adalah sesuai dengan sertifikat yang dimiliki oleh Pelaku Pertolongan Pertama. Siapa Pelaku Pertolongan Pertama yakni Orang yang pertama kali tiba di tempat kejadian  dan yang sudah terlatihTujuan  yakni selamatkan jiwa korban, cegah cacat, berikan rasa nyaman untuk menunjang proses penyembuhan, kualifikasi pelaku pertolongan pertama,” harap Pegawai BPBD Kota Solok ini.

“Dengan diadakannya acara ini pada petugas kesehatan nantinya dapat mengetahui dan berperan aktif tentang kesiapan pada penanggulangan bencana apabila di Kota Solok nantinya terjadi bencana serta meningkatkan kualitas petugas kesehatan pada penyelenggaraan penanggulangan bencana untuk tiap-tiap klaster yang ada di Dinas Kesehatan,” harapnya. (ig)

Kerap Dilanda Banjir, DPRD Tinjau Drainase Jalan Imam Bonjol

Solok, (InfoPublikSolok) – Ketua DPRD Kota Solok, Yutris Can bersama jajaran Komisi II Bidang Pembangunan melakukan peninjauan ke lapangan dalam rangka menindaklanjuti laporan masyarakat Kelurahan Tanah Garam terkait dampak buruknya drainase yang terlalu sempit. Sehingga mengakibatkan beberapa titik mengalami kebanjiran, seperti di jalan Imam Bonjol, depan Pondok Pesantren Al Mumtaz, Kelurahan Tanah Garam, Minggu (23/9/2018).

Dalam kunjungan tersebut Ketua DPRD Kota Solok, Yutris Can, didampingi Ketua Komisi II, Daswippetra Dt. Mjj. Alam beserta anggota Komisi II, Bayu Kharisma, Hj. Nurnisma, Zulkarnain dan Yosri Martin. Sedangkan dari Pemerintah Kota Solok juga hadir Staf Ahli, Edi Candra, Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan, Jefrizal, Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Jaralis beserta jajaran, Kabag PAP, Jupri serta Lurah Tanah Garam.

Komisi II Bidang Pembangunan saat melakukan peninjauan kelapangan menemukan adanya drainase yang kurang lebar dan tidak sesuai dengan debit air yang mengalir, sehingga mengakibatkan genangan air yang cukup tinggi di beberapa titik pemukiman. Kondisi ini sangat perlu dilakukan perbaikan secepat mungkin agar air dari beberapa perumahan dapat dengan lancar mengalir melalui drainase.

“Setiap laporan masyarakat harus ditinjau secara langsung di lapangan agar kita memahami apa masalah dan solusinya yang akan menjadi bahan pembahasan di DPRD Kota Solok bersama dengan OPD yang terkait,” ucap Ketua Komisi II, Daswippetra Dt. Mjj. Alam di lokasi

Ketua DPRD Kota Solok,Yutris Can, SE menambahkan, “Ini tugas utama kita dalam menerima laporan masyarakat. Perbaikan untuk sarana drainase yang terlalu sempit ini harus terlaksana dalam tahun ini, sebab banjir yang selalu melanda kawasan ini sudah sering terjadi ketika hujan deras,” tegasnya.

Drainase merupakan salah satu fasilitas dasar yang dirancang sebagai sistem guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan merupakan komponen penting dalam perencanaan kota. Drainase mempunyai arti mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. (wh)

Pembekalan “Pramuka Peduli” Kwarcab Kota Solok Hadapi Bencana Alam

Solok, (InfoPublikSolok) – Kwartir Cabang 0310 Gerakan Pramuka Kota Solok  melalui Satuan Tugas Pramuka Peduli Kota Solok menggelar Kegiatan Gladi Pramuka Peduli yang dilaksanakan selama tiga hari (21 s/d 23 September 2018) bertempat di Bumi Perkemahan Taman Pramuka, Ampang Kualo, Kota Solok.

Gladi Pramuka Peduli diikuti sebanyak 27 orang terdiri dari 19 putra dan 8 putri yang merupakan utusan Pramuka Penegak yang berpangkalan di sekolah SLTA se- Kota Solok. Para Peserta akan diberikan materi pengenalan petujuk pelaksanaan tentang Pramuka Peduli, materi teknik survival, mitigasi bencana, pengenalan gempa, penanggulangan penderita gawat darurat, teknik komunikasi radio dan teknik assessment.

“Gerakan Pramuka sebagai organisasi pendidikan yang selama ini telah banyak melakukan kegiatan bakti masyarakat (community service) dan pembangunan masyarakat (community development) sebagai wujud dari pengamalan Satya dan Darma Pramuka, terpanggil untuk bersama-sama masyarakat dan pemerintah mengembangkan upaya pengembangan sumber daya manusia, penanggulangan bencana dan pelestarian lingkungan hidup melalui program Pramuka Peduli dengan pendekatan Tri Bina, yakni Bina Diri, Bina Satuan dan Bina Masyarakat,” kata Jefri Hariyanto, Ketua Pelaksana kegiatan saat pembukaan, Jumat (21/9/2018).

Wakil Walikota Solok, Reinier, selaku Ketua Kwarcab dalam sambutan yang juga dihadiri oleh Pengurus Kwarcab, Narasumber, Kabid Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga serta Lurah Kampung Jawa,  menyampaikan bahwa Anggota Pramuka sangat perlu dibekali dengan ilmu dan pengetahuan untuk dapat melakukan kegiatan bakti di masyarakat ketika terjadi bencana alam, karena itu lanjutnya, kegiatan ini dirasakan sangat besar manfaatnya.

“Kepada adik-adik yang tergabung dalam Tim Pramuka Peduli ikutilah kegiatan ini dengan serius, sehingga anggota Pramuka Peduli dapat bertugas dengan baik nantinya dan dapat dirasakan keberadaanya di tengah-tengah masyarakat, serta saya sebagai pimpinan berharap Kepada seluruh Pelatih, Instruktur dan Narasumber kiranya dapat memberikan ilmu dan pengalaman yang terbaik untuk adik-adik kita,” harap Reinier.

Wilayah Indonesia yang rentan terhadap bencana alam memerlukan kesiapan dan kecakapan organisasi pendidikan kepanduan dalam penanggulangan bencana alam serta menjaga kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup dan kepedulian terhadapa sesama. (js)