Petani Serai Wangi Adakan Demonstrasi Percontohan Sajale

Solok, (InfoPublikSolok) – Semangat petani serai wangi yang dikomandoi oleh Djanuardi patut ditiru. Keterbatasan lahan tidak menjadikan pensiunan pegawai kehutanan tersebut berputus asa untuk mengembangkan serai wangi. Berawal dari Program Kementerian Pertanian yang bernama Upaya Khusus Padi, Jagung dan Kedelai, Djanuardi terbersit ide untuk menciptakan program serupa yang memasukkan komoditas serai wangi.

Untuk itu, Kamis (22/11/18) bertempat di lahan dekat Jalan Lingkar Utara, Ketua Kelompok Agribisnis Serai Wangi beserta anggota yang didukung oleh Dinas Pertanian Kota Solok mengadakan Demonstrasi Percontohan Tumpang Sari antara Serai Wangi, Jagung dan Kedelai (Sajale).

Kegiatan ini diikuti lebih kurang 100 petani dari Kota Solok dan dihadiri oleh Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Solok, Drs. Dedi Asmar. Kepala Bidang Sarana, Prasarana dan Agribisnis Dinas Pertanian Kota Solok, Ir. Eka Yulmalida, Kepala Dinas Pangan yang diwakili oleh Wisra, S.Pt, Akademisi UMMY dan KTNA Kota Solok.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pertanian yang diwakili oleh Ir. Eka Yulmalida mengatakan bahwa Pemerintah Kota Solok telah mengembangkan serai wangi sejak tahun 2006 dan telah ditetapkan sebagai satu komoditas unggulan Kota Solok yang tertuang dalam Peraturan Gubernur Sumatera Barat dan Peraturan Walikota Solok.

“Minyak serai wangi Kota Solok memiliki mutu terbaik di Indonesia dengan kandungan Citronella 45-50% dan Geraniol 90-93% dan di atas standar mutu minyak serai wangi nasional yang hanya mengandung Citronella 35% dan Geraniol 85%. Standar mutu yang terbaik di Indonesia tersebut membuat Pemerintah Kota Solok memandang serai wangi mempunyai prospek untuk dikembangkan, bahkan untuk komoditas ekspor” lanjut Eka.

Djanuardi dalam eksposenya menyatakan serai wangi memiliki masa depan yang cerah. Bahkan dalam setiap kesempatan petani yang ahli membuat produk turunan dari minyak serai wangi ini menyatakan bahwa Pemerintah Kota Solok dapat meraup keuntungan dari serai wangi jika dikelola dalam bentuk BUMD.

Acara tersebut diakhiri dengan pencanangan dengan penanaman bersama tumpang sari serai wangi dengan jagung dan kedelai. (fa).

Pelatihan Teknologi Pengolahan Jerami Bagi Peternak

Solok, (InfoPublikSolok) – Kota Solok memiliki potensi sebagai sentra peternakan, khususnya sapi potong. Kota Solok sebagai penghasil beras terkenal, menyisakan jerami dari proses pasca panen. Jika satu hektar sawah menghasilkan 12 sampai dengan 15 ton, maka Kota Solok menyisakan 28.350 ton jerami per tahun. Jumlah jerami sebanyak itu bisa menghidupi 1.295 ekor sapi. Dengan demikian, andai saat ini baru 10% jerami yang termanfaatkan maka Kota Solok berpotensi menambah populasi sapi hingga 1.165 ekor dari pemanfaatan jerami.

Sekolah Lapang Teknologi Pengolahan Pakan yang dimulai pada tanggal 14 November 2018. Pada sekolah lapang ini, peternak dibimbing mengolah jerami menjadi pakan ternak yang bernutrisi tinggi dengan fermentasi dan amoniasi. Kegiatan ini diikuti oleh 25 orang peternak dari 4 kelompok tani sektor peternakan yaitu Poktan Elok Basamo Kelurahan Aro IV Korong, Poknak Bukik Gombak Kelurahan Tanjung Paku, Poktan Wanita Serba Usaha Kelurahan Tanah Garam dan Poktan Maju Bersama Kelurahan Kampung Jawa sebagai tuan rumah.

Sekolah lapang yang rencananya akan dilangsungkan sebanyak 3 kali pertemuan ini dibimbing oleh Dosen UMMY Solok, Rica Mega Sari, S.Pt, MP, Pada pertemuan pertama tanggal 14 November 2018 dihadiri oleh Kepala Seksi Peternakan, Taufiq Rusli, S.Pt, MM, Kepala Seksi Penerapan Teknologi, Fathoni Abdillah, S.Pt., M.Eng, Koordinator Penyuluh Kota, Nazifah, SP, Penyuluh Wilayah Kampung Jawa, Alfian, SP dan Ricky, SP. M.Si. selaku koordinator lapangan.

Sejak dumulainya sekolah lapang, para peserta sangat antusias menyimak materi yang disampaikan oleh pemandu. Rica mengatakan, banyak sisa hasil pertanian yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak, jerami adalah yang paling banyak tersedia. Selain itu di Kota Solok tersedia sekitar 25 hektar kebun serai wangi. Sisa penyulingan berupa daun serai wangi juga bisa dimanfaatkan sebagai pakan sapi.

“Sapi membutuhkan pakan hijauan 10% dari berat badannya. Jerami hasil fermentasi bisa dikonsumsi sapi tanpa tambahan nutrisi dari bahan pakan lain. Dengan demikian kebutuhan pakan yang mencapai 60% dari biaya produksi dapat ditekan biayanya agar usaha sapi lebih menguntungkan” Lanjut Rica.

Setelah teori disampaikan, Rica Mega Sari yang telah 11 tahun menjadi tenaga pengajar di UMMY Solok melanjutkan dengan materi dengan praktek. Praktek fermentasi dan amoniasi jerami menggunakan bahan jerami padi, urea, starbio atau M4 dan air. (fa)

Wakil Walikota Solok Lakukan Field Day Panen SL PTT

Solok, (InfoPublikSolok) – Wakil Walikota Solok, Reinier, ST., MM melakukan field day Sekolah Lapang Padi Tanam Terpadu (SL PTT) di Kelurahan Simpang Rumbio pada tanggal 12 November 2018. SL PTT merupakan sekolah lapang untuk petani guna mempelajari cara budidaya padi sawah. Sebagai akhir dari rangkaian SL PTT dilakukan field day sekaligus sosialisasi mesin combine harvester untuk membantu panen.

Turut dalam acara field day Anggota Komisi IV DPR RI, Drs. Hasanuddin, M.Si., Pasiter Kodim 0309 Solok, Kapten Suryadi yang mewakili Dandim, Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, Ir. Ikhvan Marosa, Camat Lubuk Sikarah, Lurah Simpang Rumbio dan para pemuka masyarakat lainnya serta diikuti oleh seluruh penyuluh dan perwakilan kelompok tani/gapoktan se Kota Solok.

Menurut Sari Agus Pendi, penyuluh wilayah binaan Simpang Rumbio dan KTK, field day ini telah diuasahakannya selama 4 bulan terakhir. Dia bercita-cita agar kehilangan hasil panen padi dapat diminimalisir. Dengan menggandeng tukang lambuik, Sari Agus Pendi berkeyakinan combine harvester ini digunakan oleh petani Simpang Rumbio tanpa harus mengorbankan mata pencaharian tukang lambuik tersebut.

“Saat ini pemerintah tengah gencar memaksimalkan penggunaan mekanisasi pertanian dengan alat dan mesin. Tujuan mekanisasi pertanian adalah mengurangi kejerihan kerja dan meningkatkan efisiensi tenaga manusia, mengurangi kerusakan produksi pertanian, penurunkan ongkos produksi, menjamin kenaikan kualitas dan kuantitas produksi, meningkatkan taraf hidup petani dan memungkinkan pertumbuhan ekonomi subsisten (Tipe Pertanian Kebutuhan Keluarga) menjadi Tipe Pertanian Komersil (Comercial Farming),” Ujar Reinier dalam sambutannya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian dalam laporan pelaksanaan menyampaikan Demonstrasi penggunaan alat dan mesin pertanian, khususnya combine harvester dianggap efektif untuk mengenalkan kepada petani cara penggunaan, kemudahan dan hasil yang diperoleh menguntungkan. Kegiatan ini merupakan perpaduan dari Sekolah Lapang Padi Tanam Terpadu yang pada tahun ini dilaksanakan pada 9 kelompok tani se Kota Solok, dengan rincian 4 kelompok diselenggarakan dari dana APBD dan 5 kelompok dari dana APBN.

Dalam acara diskusi petani Kelurahan Simpang Rumbio menyatakan ingin membangun telaga biruhun untuk dijadikan embung agar sawah mereka dapat ditanami padi sepanjang tahun. Selain itu petani juga menginginkan agar bantuan alat dan mesin pertanian sesuai spesifik lokasi. Khususnya di Kota Solok, petani menginginkan alat dan mesin pertanian yang kecil sehingga mudah digunakan pada sawah dengan topografi miring dan mempunyai petakan kecil.

Dalam acara field day panen ini juga diumumkan para pemenang kelompok tani pelaksana dan penyuluh penerap teknologi jajar legowo. Untuk kelompok tani pelaksana teknologi jajar legowo, keluar sebagai pemenang I adalah Kelompok Tani Harapan Baru dari Kelurahan Tanjung Paku. Pemenang ke II adalah Kelompok Tani Sarang Alang dari Kelurahan Laing dan Pemenang ke III adalah Kelompon Tani Serba Usaha dari Kelurahan Tanah Garam. Untuk Penyuluh Penerap Teknologi Jajar Legowo jatuh pada Melda, SP. Sebagai penyuluh wilayah binaan Tanah Garam RW II dan RW III (fa).

BATAN Bantu Tingkatkan Produksi Beras Solok Varietas Anak Daro

Solok, (InfoPublikSolok) – “Semoga dengan MoU bersama Kota Solok ini dapat meningkatkan varietas beras Solok Anak Daro”, demikian hal yang diucapkan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Dr. Djarot Sulistio Wisnubroto pada sambutannya pada acara penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Pemerintah Kota Solok serta sosialisasi pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan nuklir untuk kesejahteraan masyarakat, bertempat di Balairung 99 Rumah Dinas Walikota Solok,  Jum’at (9/11).

Turut hadir pada kesempatan itu, Sekretaris Daerah Kota Solok Rusdianto, SIP. MM, Asisten, Staf Ahli, seluruh kepala Perangkat Daerah, Bundo Kanduang Kota Solok Milda Murniati, serta Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Solok.

Kepala Dinas Pertanian Kota Solok Ir. Ikhvan Marosa dalam laporannya menyebutkan, MoU yang ditandatangani kali ini berdasarkan keinginan Pemerintah Daerah Kota Solok, untuk melakukan rekayasa genetika varietas lokal Beras Solok Anak Daro.

Salah satu sifat beras anak daro memiliki kelemahan yakni umur panen yang panjang yakni 140 hari, serta mudah terserang penyakit, tambah Kadis Pertanian. Dengan adanya MoU dengan BATAN ini, diharapkan akan didapatkan varietas Beras Solok Anak Daro yang umur produksi dalam waktu rendah, tahan berbagai penyakit serta memiliki produksi tinggi,” tutup irvan marosa.

Kepala BATAN, Djarot Sulistio Wisnubroto dalam sambutannya juga menceritakan bahwa, saat ini BATAN memilik 2.346 pegawai dan berada langsung dibawah komando Presiden, serta koordinasi dengan Kemeristekdikti. Adapun komoditas utama BATAN saat ini ialah produksi pangan, dan saat ini Batan memilik reaktor nuklir di 3 kota, yakni Yogyakarta, Serpong, dan Bandung. Reaktor Nuklir tersebut berguna untuk menghasilkan obat-obat kesehatan.

Lebih lanjut Djarot menjelaskan, sebelumnya BATAN telah melakukan penandatanganan MoU dengan Pemprov Sumbar supaya produksi Rendang agar dapat bertahan lama masa kadaluarsanya. Semoga dengan Mou bersama Kota Solok ini dapat meningkatkan varietas beras Solok Anak Daro,” ujarnya.

Sementara itu, Walikota Solok H. Zul Elfian mengucapkan rasa terimakasih atas kedatangan kepala BATAN ke Kota Solok guna menandatangani MoU ini. “Dengan adanya Mou ini, kita Pemerintah Kota Solok akan semakin mudah mendapatkan bimbingan dari BATAN. Baik itu dibidang pangan, kesehatan dan lainnya,” ujar Wako.

Zul Elfian meneruskan, kita sangat membutuhkan MoU dengan BATAN ini, karena Kota Solok merupakan lumbung inovasi daerah di Sumatera Barat. Perangkat Daerah selalu berinovasi guna kesejahteraan masyarakat. Saat ini, lahan sawah seluas 800 ha tidak boleh berkurang. Dengan adanyanya bimbingan dari BATAN, produksi Beras Solok Anak Daro akan lebih meningkat, masa panen lebih singkat dan tahan dari berbagai penyakit.

Selanjutnya, Wako mengingatkan para kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kota Solok agar selalu memikirkan inovasi-inovasi apa saja yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Solok Kota Beras Serambi Madinah ini. (dn)

Petani PPA Semangat Belajar Hidroponik

Solok, (InfoPublikSolok) – “Bertani tidak harus memerlukan lahan,” ujar Ir. Farida Artati, Peneliti Muda dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat pada acara Kursus Tani dihadapan Kelompok Tani Harapan Bangsa Kelurahan PPA (8/11) bertempat di Surau Pandan.

Acara dibuka oleh Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kota Solok, Ir. Zeldi Efiza. Hadir dalam pembukaan dan turut mendampingi Kepala Seksi Penerapan Teknologi Fathoni Abdillah, S.Pt, M.Eng, Kepala Tata Usaha Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Tanjung Harapan Ramadanus, S.Pt, M.Si. Koordinator Penyuluh Kecamatan Tanjung Harapan Siska Nofita, SP, M.Si, serta jajaran Dinas Pertanian Kota Solok lainnya Ricky, SP, M.Si dan Syafril.

Dalam sambutannya, Zeldi Efiza menyatakan bahwa Kelompok tani Harapan Bangsa selain mempunyai sawah sekitar 10 Ha, kelompok ini tidak mempunyai lahan selain lahan sekitar rumah tinggal. Untuk itu lanjut Kabid Penyuluhan, anggota kelompok tani ingin memanfaatkan lahan sekitar rumah tinggalnya yang sempit untuk berusaha tani.

“Hari ini Ibu-ibu sengaja dibekali bagaimana berusaha tani hidroponik, untuk itu ikuti kursus tani ini dengan baik dan sampai selesai harap Zeldi. Jika ada yang
kurang paham langsung tanyakan kepada narasumber,” tutup Kepala Bidang Penyuluhan mengakhiri sambutannya.

Sementara itu Narasumber Farida Artati dalam materinya menyampaikan, untuk memenuhi kebutuhan sayuran yang aman dan sehat kita bisa mengusahakan sendiri. Dengan bertani sendiri kita bisa menjaga tanaman kita dari bahan an organik dan pestisida.

Hambatan lahan bagi yang tinggal di perumahan atau rumah petak dapat diatasi dengan Teknologi Budidaya Hidroponik, suatu teknologi bertani tanpa tanah tambah Farida.

Salah satu peneliti senior BPTP itu melanjutkan jika berbagai macam tanaman dapat dibudidayakan secara hidroponik, misalnya Kangkung, Bayam dan Selada. Bagi petani hidroponik yang maju biasanya menggunakan paralon besar sebagai tempat aliran air dan rockwool sebagai media tanamnya. Namun untuk hidrponik sederhana, alat dan bahannya bisa diusahakan dari barang yang tersedia di sekitar kita, seperti botol plastik bekas sebagai tempat airnya dan kain flanel, arang sekam atau serbuk gergaji sebagai media tanamnya. Pupuknya pun bisa menggunakan bahan yang ada di sekitar kita.

Selain menyampaikan materi dan memandu praktek membuat hidroponik sederhana kepada 25 petani perempuan, narasumber juga membawa peraga berupa rangkaian hidroponik dari paralon lengkap dengan tanamannya. (fa)

Direktur Litbang Kemenristekdikti Tinjau Petani Minyak Atsiri Kota Solok

Solok, (InfoPublikSolok) – Keseriusan Pemerintah Kota Solok memproduksi Minyak Atsiri yang berasal dari olahan Serai Wangi mendapatkan perhatian dari Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti RI.

Direktur Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti, Kemal Prihatman mengunjungi Kota Solok guna melihat langsung perkembangan olahan Minyak Atsiri.

Kedatangan Kemal Prihatman bersama Kepala Subditektorat Penelitian dan Pengembangan Daerah, Rosmaniar Dini diterima langsung oleh Wakil Walikota Solok Reinier, ST, MM, didampingi Asisten III, Drs. Muhammad, Kepala Balitbang Kota Solok Ir. Raflis, serta para petani Minyak Atsiri, bertempat di Ruang Rapat Walikota, Kamis (8/11).

Reinier dalam sambutannya mengatakan, seluruh unsur terkait di Kota Solok harus memanfatkan pendampingan dari Litbang Kemenristekdikti secara tepat, guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat petani Serai Wangi. “Kita inginkan bagaimana kedepannya orang tak hanya mengenal Beras Solok, namun juga minyak atsiri asal Kota Solok,” sebut Reinier.

Saat ini, guna meningkatan produksi Minyak Atsiri, Kota Solok sudah melakukan sinergi antara beberapa OPD, yakni Litbang, Bappeda, Dinas Pertanian, serta Dinas Pariwisata

Kemal Prihatman dalam paparanya menjelaskan, saat ini Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti sudah mendampingi 106 lembaga litbang di seluruh Indonesia. Lembaga Litbang daerah yang akan mendapatkan pendampingan apabila semakin banyak bisa mensinergikan antara OPD terkait. “Jika makin banyak sinergi antara OPD, maka kemungkinan akan bisa kami dampingi makin tinggi,” sebutnya.

Untuk meningkatkan produksi minyak atsiri, harus memikirkan 3 hal utama, yakni masalah branding, keunikan serta indikasi geografis. Dalam masalah branding, minyak atsiri Kota Solok harus bisa meyakinkan barangnya sebagai yang terbaik, bagus, dan bersifat nasional maupun go internasional.

“Selanjutnya, jika Kota Solok ingin minyak atsiri go internasional, kami mempunyai fasilitasnya. Dengan catatan barang yang dihasilkan harus unik. “Selama satu tahun, minyak atsiri Kota Solok akan diteliti serta kami dampingi. mudahan-mudahan minyak atsiri Kota Solok bisa go internasional,” ungkapnya.

Pada Bulan Januari 2019 nanti Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kemenristekdikti akan menerima proposal dari lembaga penelitian, kemudian nantinya akan dipilih 2 lembaga dengan hasil terbaik yang akan dibawa go internasional.

Oleh karena itu, Kemal mengharapkan agar program minyak atsiri di Kota Solok ini akan berkelanjutan, jangan hanya program sebentar yang hanya 1 atau 2 tahun saja. “Jika ada kendala di lapangan, saya beserta seluruh anggota lembaga penelitian dan pengembangan Kemenriatekdikti sangat terbuka untuk menyelesaikan apapun masalah yang ada. Kami siap mensinergikan seluruh kegiatan yang ada guna menyukseskan Minyak Atsiri Kota Solok,” ujarnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan lapangan guna melihat langsung proses pengolahan minyak atsiri oleh para petani di Kota Solok tersebut. (dn)

Kota Solok Siap Sambut Peda 2019 dan Penas Tani Tahun 2020

Solok, (InfoPublikSolok) – Pekan Nasional Tani (Penas Tani) Tahun 2020 diselenggarakan di Provinsi Sumatera Barat. Dalam Penas Tani nantinya akan berkumpul sekitar 15.000 petani dari seluruh Indonesia. Mereka akan berbagi informasi, pengalaman dan keterampilan dalam usaha tani.

Walaupun Kota Padang sebagai penyelenggara utama, Kota Solok dengan jarak tempuh kurang dari dua jam sangat mungkin dikunjungi oleh peserta Penas Tani tersebut. Untuk itu diperlukan persiapan, salah satu unggulan yang akan ditampilkan adalah Agrowisata Sawah Solok di Kelurahan IX Korong dan Agrowisata Kampung Durian di Kelurahan Tanjung Paku.

Salah satu yang dilakukan dalam rangka persiapan adalah koordinasi dengan pihak terkait dan monitoring pada dua destinasi agrowisata tersebut. Sebelumnya dilakukan Rapat Koordinasi yang bertempat di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumatera Barat di Sukarami dan dilanjutkan monitoring ke Agrowisata Sawah Solok dan Agrowisata Kampung Durian, Jumat (2/11).

Rapat koordinasi dan monitoring diikuti oleh Kepala BPTP Sumatera Barat, Dr. Drs. Jevky Hendra, M.Si, Kepala Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Dr. Ir. Ellina Mansyah, MP, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, Ir. Candra, M.Si dan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang, Dr. Ir. Munzir Busniah, M.Si, para peneliti dari BPTP dan Balitbu dan didampingi langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Kota Solok, Ir. Ikhvan Marosa, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Perkebunan, Ir. Yurmiati, MM dan Kepala Bidang Penyuluhan, Ir. Zeldi Efiza.

Sementara itu, untuk menyambut event Pekan Daerah (Peda) Provinsi Sumatera Barat, rencananya akan diadakan beberapa kegiatan, diantaranya festival durian. Dalam monitoringnya ke Sawah Solok, tim menyambut baik perkembangan Agrowisata Sawah Solok dan menyarankan agar promosi agrowisata ditingkatkan, baik melalui media sosial maupun media lainnya agar destinasi ini cepat terkenal.

Sedangkan dalam kunjungannya ke Lokasi Agrowisata Kampung Durian, petani menginginkan Bimbingan Teknis Perawatan Tanaman Durian sekaligus penyediaan bibit durian untuk penyisipan. Di tempat ini tim menyarankan agar petani serius memelihara tanaman durian agar Tanjung Paku benar-benar menjadi kampung durian yang banyak dikunjungi wisatawan. Jika berhasil, tim juga mengusahakan peresmiannya dilakukan oleh Gubernur Sumatera Barat dan Panen Perdana oleh Presiden Republik Indonesia. (fa)

BPTPH Latih Petani Poktan Rajawali Kendalikan Hama dan Penyakit Padi

Solok, (InfoPublikSolok) – Sebagai kota penghasil padi sawah yang terkenal, Kota Solok senantiasa menjadi perhatian Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat.

Untuk itu, melalui Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sumatera Barat, diselenggarakanlah Pelatihan Singkat Petani dengan Topik Prinsip Pengendalian Hama Terpadu, bertempat di Rumah Ketua Kelompok Tani Rajawali, Agusril Dereng di Kelurahan Tanjung Paku, Jumat (2/11).

Peserta pelatihan ini berjumlah 25 orang yang merupakan anggota Kelompok Tani Rajawali di Kelurahan Tanjung Paku. Bertindak sebagai narasumber Rina Martin, SP dari BPTPH dan Edtiya Murphy yang merupakan koordinator Pengamat Hama dan Penyakit Tanaman
untuk Kota dan Kabupaten Solok.

Narasumber Rina Martin menyampaikan kiat-kiat mengendalian hama dan penyakit pada budidaya tanaman padi sawah. Salah satunya adalah dengan pemberdayaan musuh alami, pengamatan secara berkala dan pentingnya kelompok yang mempunyai ahli dalam pengendalian hama terpadu.

Selanjutnya, Edtiya menjelaskan jenis-jenis hama dan penyakit yang harus diwaspadai oleh petani yaitu; tikus, blast dan tungro. Hama tikus perlu diwaspadai karena sangat cepat perkembangannya dan dapat menyebabkan petani gagal panen.
Diantara cara pengendalian hama tikus adalah sanitasi lingkungan sawah yang baik dengan membersihkan pematang dari rumput dan gulma lainnya.

Pengamatan berkala sangat diperlukan guna mendeteksi dini penyakit blast. Penyakit blast dapat dikendalikan jika serangannya bisa dikendalikan sebelum padi mengeluarkan buah (gabah).

“Salah satu ciri tanaman padi terserang penyakit blast adalah adanya bercak belah ketupat dengan titik/inti di tengahnya pada daun,” lanjut Edtiya.

Pelatihan singkat ini sangat serius diikuti oleh para petani anggota Poktan Rajawali mulai dari pagi sampai berakhir siang menjelang waktu shalat Jumat.

Turut hadir dalam Pelatihan Singkat tersebut Nazifah, SP selaku Koordinator Penyuluh Kota Solok, Siska Nofita, SP, M.Si Selaku Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Tanjung Harapan, Erlina Iswari selaku Penyuluh Wilayah Binaan Tanjung Paku dan Imran sebagai Petugas Pengamat Hama dan Penyakit untuk Kecamatan Tanjung Harapan. (fa)

Peringati Hari Pangan Sedunia, Pemerintah Optimalisasi Lahan Rawa untuk Pertanian Produktif

Barito Kuala, (InfoPublikSolok) – Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) berkomitmen untuk mewujudkan kemandirian pangan. Salah satunya adalah dengan optimalisasi lahan rawa sebagai lahan suboptimal untuk pertanian produktif, seperti yang menjadi tema utama puncak Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 38 diselenggarakan di Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 18-21 Oktober 2018.

Tema peringatan tahunan yang jatuh setiap tangga 16 Oktober tersebut, sesuai dengan tema World Food Day tahun 2018 yang diusung oleh organisasi pangan dan pertanian dunia yakni “Our Actions are Our Future, A Zero Hunger World by 2030 is Possible”. Pemerintah bertekad menjadikan lahan rawa sebagai penjamin ketersediaan pangan masa depan, ditengah pesatnya pertumbuhan penduduk dan menyusutnya lahan pertanian.

“Optimalisasi lahan rawa adalah bagian dari komitmen pemerintahan Jokowi-JK untuk menjaga kebutuhan pangan kita dengan meningkatkan produktivitas pertanian. Bahkan, untuk visi yang lebih besar yakni lumbung pangan dunia di 2045,” kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat membuka acara di Barito Kuala pada Rabu (07/10/2018).

Optimisme Amran ini bukan tanpa alasan karena lahan rawa di Indonesia cukup besar namun masih dipandang sebelah mata. Dari data Kementan terlihat luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan mencapai 34,1 juta hektare yang terdiri dari sekitar 20 juta hektare lahan rawa pasang surut, dan lebih dari 13 juta hektare lahan rawa lebak. Lahan ini tersebar rersebar di 18 provinsi, atau 300 kabupaten/kota.

Dari jumlah itu, 9,52 juta hektare diantaranya bisa dikembangkan untuk pertanian. Potensi ini lebih luas dibandingkan lahan sawah irigasi yang hanya seluas 8,1 juta hektare. Kendala terbesar pemanfaatan lahan rawa terdahulu adalah genangan maupun kekeringan, namun saat ini dapat diatasi dengan pengelolaan tata air dan teknologi penataan lahan.

“Kita buktikan, dengan teknologi, lahan rawa yang dulunya hanya menghasilkan asap saat kemarau, dan tergenang saat hujan kini bisa dipakai petani untuk menghasilkan pangan,” ujar Amran di antara 750 hektare lahan padi rawa yang siap panen di Desa Jejangkit Muara, Kecamatan Jejangkit, Barito Kuala yang merupakan proyek percontohan.

Pertanian Modern Lahan Rawa

Amran menunjukkan, bahwa upaya konversi lahan rawa menjadi lahan pertanian ini telah berhasil dikembangkan seluas salah satunya di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dan ditargetkan akan ada 4.000 hektare lahan rawa di Kalimantan Selatan hingga akhir tahun 2018 nanti yang sudah jadi lahan pertanian produktif.

Pembukaan lahan rawa ini dilengkapi dengan pembangunan irigasi dan penerapan mekanisasi pertanian modern. Sejumlah tantangan seperti menjaga level air dilakukan dengan pompanisasi, begitu juga pengapuran untuk mengatasi kadar asam yang tinggi, dan beberapa intervensi untuk percepatan lembusukan jerami.

Optimalisasi lahan rawa juga tidak terlepas dari penggunaan varietas unggul baru (VUB) padi yang adaptif untuk rawa, dipadukan dengan teknologi budidaya yang tepat. Sebanyak 35 varietas padi unggul adaptif lahan rawa pasang surut dan rawa lebak dengan berbagai sifat keunggulan termasuk yang banyak dikembagkan antara lain inbrida padi rawa (Inpara) yaitu Inpara 2, Inpara 3, Inpara 8 dan Inpara 9, dan padi sawah irigasi/tadah hujan yang juga ditanam varietas adalah Inpari 32, Inpari 40 dan Inpari 42 Agritan.

“Peringatan HPS ke-38 tak boleh sekedar seremonial, tetapi harus menjadi momentum penting untuk perkenalkan kepada dunia akan kemajuan teknologi pertanian, terutama keberhasilan Indonesia memanfaatkan lahan rawa pertanian produktif,” tutup Amran.

Sejumlah rangkaian acara mendukung HPS 2018, seperti Pekan Pertanian Lahan Rawa Nasional (PPRN) guna memperkenalkan teknologi dan inovasi lahan rawa untuk pertanian. Termasuk dengan melaunching lunching Taman Sains Pertanian (TSP) Lahan Rawa, Bimbingan Teknis pengelolaan lahan rawa, Gelar Inovasi teknologi Pertanian Lahan, dan Pameran IPTEK dan Inovasi Pertanian Lahan Rawa.

Kegiatan yang juga penting adalah pelaksanaan International Workshop on Tropocal Wetlands: Innovation in Mapping and Managament for Sustainable Agriculture, serta diplomatic tour untuk para duta besar negara sahabat. Semua itu dilakukan agar “Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045” bukan sekedar tema, tapi implementasi dan kerja nyata. (Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian didukung oleh Tim Komunikasi Pemerintah Kemkominfo)

KTNA Kota Solok Ukir Prestasi Di Ajang Pra Peda Tani Sumatera Barat

Pesisir Selatan, (InfoPublikSolok) – Provinsi Sumatera Barat akan menjadi tuan rumah ajang Pekan Nasional Tani (Penas Tani) Tingkat Nasional yang bertempat di Terminal Air Pacah Kota Padang. Segala Persiapan dilakukan guna suksesnya acara tersebut, baik sukses prestasi maupun sukses penyelenggaraan. Untuk tingkat Provinsi, Tahun 2019 akan diselenggarakan Pekan Daerah (Peda) Tani di Kota Padang. Untuk itu sebagai persiapan menuju Peda Tahun 2019, dilaksanakan Pra Peda bertempat di Pantai Sago Kabupaten Pesisir Selatan pada tanggal 27-29 September 2018.

Pada acara Pra Peda tersebut diselenggarakan sebanyak 4 lomba yaitu Unjuk Tangkas Tani, Peragaan Tani, Asah Terampil Tani dan Temu Karya Tani. Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Solok mengikuti seluruh lomba yang diselenggarakan panitia Pra Peda.

Acara Pra Peda ditutup secara resmi Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Ir. Candra, M.Si, Sabtu, (29/9). Hadiri oleh Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, SH., MH. Acara penutupan berbarengan dengan `penutupan Bulan Bakti Peternakan dan Keswan Propinsi Sumatera Barat Tahun 2018.

Pada sambutan penutupan, Candra menuturkan bahwa ajang Pra Peda ini merupakan persiapan menuju Peda Tani Tahun 2019 dan muaranya sebagai pondasi menuju Penas Tani Tahun 2020. Untuk itu Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berterima kasih atas antusiasme para KTNA se Sumatera Barat mengikuti ajang Pra Peda ini.

“Saya ucapkan selamat kepada para pemenang dan bagi yang belum beruntung pada Pra Peda ini, mulai sekarang persiapkan diri menuju Peda Tani Tahun 2019 di Kota Padang” Lanjut Candra.

KTNA Kota Solok pada Pra Peda memperoleh Juara I pada Lomba Unjuk Tangkas dan Juara I pada Lomba Peragaan. Hal ini menunjukkan petani Kota Solok mampu bersaing di kawasan Sumatera Barat. Sementara Juara I Lomba Asah Terampil digondol oleh Kota Payakumbuh dan Juara I Temu Karya diraih oleh Kabupaten Padang Pariaman.

Tahun 2020, Pada Even Penas Tani diperkirakan sebanyak 15.000 petani dari seluruh pelosok tanah air berkumpul untuk unjuk kebolehan pada berbagai lomba dan berbagi pengalaman seputar usaha tani. Harapannya walaupun Kota Padang akan menjadi tuan rumah utama, Kota Solok bisa menawarkan Agrowisatanya yaitu Agrowisata Sawah Solok dan Agrowisata Payo. Dengan demikian Agrowisata yang ada di Kota Solok bisa dikenal oleh seluruh petani di Indonesia dan Penas Tani 2020 bisa dijadikan ajang promosi Visit Kota Solok Tahun 2020 (fa).