Komunitas TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solok Gelar Capacity Building CSO

Komunitas TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solok Gelar Capacity Building CSO

Solok, (InfoPublikSolok) – Pengurus Daerah (PD) Aisyiyah Kota Solok melaui Komunitas TBC-HIV Care melaksanakan kegiatan Capacity Building bagi Organisasi Masyarakat Sipil/ Civil Society Organization (CSO), selama tiga hari (18-20 September 2018) di Aula PD Aisyiyah, Komplek Perguruan Muhammadiyah Kota Solok.

Peserta pada kegiatan ini adalah perwakilan CSO dari PD Aisyiyah, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPDA), Perkumpulan Pemberantas Tuberculosis Indonesia (PPTI), Gabungan Organisasi Wanita (GOW), Organisasi Pasien TBC Solok. Dengan narasumber Jonedi, SH. MM (Kepala Bappeda Kota Solok), dr. Pepy Ledy Sofiany (Kabid P2PL Dinkes Kota Solok) dan Deri Rizal, SH.I, MH (Koordinator SR) bertindak sebagai Fasilitator.

“Kegiatan ini dilaksanakan untuk memperkuat peran serta masyarakat dan organisasi masyarakat sipil dan Non-Governmental Organization (NGO) dalam program penanggulangan TBC-HIV secara berkelanjutan, serta untuk meningkatan pemahaman peserta tentang konsep manajemen program dan penggalangan sumberdaya (fundraising),” ungkap Ns. Hj. Murhayeni, S.Kep,  Kepala SSR TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solok saat pembukaan kegiatan.

“Kedepan diharapkan NGO dan masyarakat mampu merencanakan konsep program, mengelola berjalannya program secara efektif serta melakukan evaluasi program secara mandiri. Disamping itu pun NGO secara mandiri mampu memberdayakan sumberdaya dan potensi yang ada melalui proses penggalangan dana/fundraising,” terang Murhayeni.

Murhayeni menambahkan, Semua hal tersebut sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya memastikan keberlangsungan program pengendalian penyakit TBC-HIV kedepan pasca bantuan teknis dari lembaga donor.

Kepala Bappeda Kota Solok dalam sambutannya sangat mendukung program TBC-HIV Care yang digagas oleh PD Aisyiyah telah banyak membantu warga khususnya di Kota Solok.

“Program ini kedepan bisa dibantu oleh pemerintah apabila organisasinya sudah terdaftar di Kemenkumham RI sekurangnya selama tiga tahun. Ini sudah menjadi peraturan dari pemerintah bahwa organisasi bisa dilibatkan dan dibantu oleh pemerintahan daerah apabila sudah mendaftar di Kemenkumham,” terang Jonedi.

Terkait perencanaan program, Jonedi menyebut kedepan Bappeda siap menfasilitasi sesuai dengan teknis dan prosedur yang sudah ditetapkan pemerintah. “Diharapkan program ini terus berlanjut demi kesehatan masyarakat khususnya Kota Solok,” pungkas Jonedi.

Sementara itu, Pepy Ledy Soffiani menerangkan konsep penganggaran program TBC telah dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course). DOTS Merupakan strategi penanggulangan Tuberkulosis di Rumah Sakit melalui pengobatan jangka pendek dengan pengawasan langsung. Kunci utama keberhasilan adalah keyakinan bahwa penderita TB meminum semua Obat Anti TB (OAT) sesuai dengan anjuran yang telah ditetapkan. Artinya harus ada seseorang yang ikut mengawasi atau memantau penderita saat minum obat. Penanganan TB secara langsung, terawasi, cepat, dan tuntas ini sebenarnya ampuh dan efektif untuk menumpas TB.

“Dinas Kesehatan Kota Solok telah menganggarkan periksa rontgen gratis untuk 100 pasien di tahun 2018. Rencana di tahun 2019, Dinkes akan mengaktifkan kembali kader-kader yang dulunya dibentuk pada masing-masing kelurahan yang berada di Kota Solok, sehingga diharapkan penanggulangan TBC lebih maksimal dan mencapai target zero to zero tahun 2035,” harapnya.

Penyakit TB sangat erat hubungannya dengan virus HIV. Tuberkulose atau tuberculosis (dulu disingkat TBC) sebenarnya sudah diderita manusia sejak ribuan tahun lalu. Berdasarkan penelitian pada mumi peninggalan zaman Mesir kuno, saat itu sudah banyak orang meninggal gara-gara penyakit TB.

Belakangan, ketika penderita HIV/AIDS semakin bertambah jumlahnya, penyakit TB pun tampil kembali setelah lama tak terdengar. Kedua penyakit ini sangat erat hubungannya, menurunnya daya tahan tubuh yang drastis mengakibatkan seseorang rentan terhadap penyakit infeksi seperti TB. Tentu saja terjangkitnya TB pada penderita HIV akan semakin memperburuk ketahanan tubuh penderita serta mempercepat replikasi virus dalam tubuhnya. Artinya infeksi HIV akan mempercepat perjalanan penyakit TB.

Sebaliknya, TB dalam tubuh orang yang terinfeksi HIV akan semakin mempercepat perjalanan penyakit menjadi AIDS. Menurut perkiraan WHO, sekitar sepertiga kematian pada penderita AIDS disebabkan oleh TB, dan sekitar 40% kematian pada penderita AIDS di Afrika dan Asia disebabkan oleh TB.

Kegiatan capacity building ini dibuka secara langsung Hj. Maizar Khaidir, Ketua PD Aisyiyah Kota Solok. Turut dihadiri oleh Yusdi, Staf Khusus Walikota Solok, Syamsurijal, tokoh agama Kota Solok, Afrilina Putri Nisal, SKM, Koordinator SSR TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solok, Aulia Fitri, SE, Finance Admin SSR TB-HIV Care Aisyiyah Kota Solok serta Drs. Iskandar, MM dari PD Muhammadiyah dan Rocky Setya Budi, Wasor TB Dinkes Kota Solok. (eg/bj/re)

Tags: , , ,