Masyarakat Tanjung Paku Gelar Budaya Tulak Bala

Masyarakat Tanjung Paku Gelar Budaya Tulak Bala

Solok, (InfoPublikSolok) – Masyarakat Tanjung Paku menggelar tradisi Do’a Tulak Bala, Minggu (5/8) malam, dengan menggunakan obor sambil berjalan kaki dari tempat bersejarah kawasan Batu Laweh dan berakhir di Sport Hall Tanjung Paku. Sepanjang perjalanan peserta mengumandangkan shalawat nabi yang dipandu oleh Tokoh Ulama Kota Solok.

Acara tersebut dihadiri oleh Wakil Walikota Solok, Reinier, Ketua DPRD Kota Solok Yutris Can, Ketua LKAAM Kota Solok H. Rusli Khatib Sulaiman, Tokoh Masyarakat Tanjung Paku Nasril In Dt. Malintang Sutan, Tokoh Ulama Buya Dahrul, Lurah Tanjung Paku, Ketua LPMK Tanjung Paku, RT/RW, Niniak Mamak, Bundo Kanduang, masyarakat dan  pemuda-pemudi se-Kelurahan Tanjung Paku.

Ketua LKAAM Kota Solok dalam sambutannya menjelaskan, “Do’a Tulak Bala merupakan sebuah tradisi yang telah di warisi secara turun-temurun guna mempererat tali silaturahmi sesama masyarakat lainnya. Tulak bala itu sendiri bertujuan agar tanaman terhindar dari sekalian hama penyakit dan seluruh masyarakat selalu hidup dalam suasana tentram,” jelas H. Rusli.

Wakil Walikota Solok, Reinier mengatakan tradisi ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang kita miliki dan ada di tengah-tengah masyarakat, untuk itu harus kita jaga dan lestarikan. Jangan sampai kekayaan budaya kita tergerus oleh kemajuan teknologi dan zaman.

Ketua DPRD Kota Solok mengajak masyarakat untuk senantiasa memanjatkan doa agar daerah kita tercinta ini semakin sejahtera dan terhindar dari segala malapetaka. Acara Tolak Bala sebagai salah satu kekayaan budaya masyarakat yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Melalui acara tolak bala akan terbangun hubungan silaturahmi yang baik sesama masyarakat. Sebab persiapan acara tersebut dilakukan masyarakat dengan cara gotong royong secara bersama-sama,” kata Yutris

Do’a Tulak Bala dipemimpin/dipandu oleh Buya Dahrul Tokoh Ulama Kelurahan Tanjung Paku. Buya Dahrul memaparkan, Tolak Bala adalah upacara menjauhkan bencana, kecelakaan dan kesengsaraan yang menimpa suatu masyarakat kampung atau nagari dengan cara memohon petunjuk dan minta bantuan Allah SWT.

Do’a Tulak Bala di awali dengan berkumpul di salah satu cagar budaya yang bernama Batu Laweh. Menurut sejarahnya Batu Laweh tersebut dahulunya adalah tempat Syech Maulana (Angku Supayang) melakukan sholat dan berzikir. Pada suatu hari ketika Syech Maulana sedang sholat Maghrib, datanglah jelmaan manusia yang berwujud seekor harimau yang hendak menerkam, Syech Maulana tetap khusuk dalam menyelesaikan sholatnya. Atas kuasa Allah SWT, tubuh harimau menjadi kaku, Syech Maulana mengembalikan wujud harimau tersebut ke wujud manusia dan mengislamkan harimau jelmaan tersebut yang sekarang dikenal dengan nama Syech Kukut.

Asal nama Syech Kukut berasal dari patahnya kuku harimau tersebut saat menahan sakit ketika berubah wujud menjadi manusia, kuku harimau itu tertancap di Batu Laweh tersebut. Syech Kukut berhubungan erat dengan salah satu cagar budaya yang ada di tiang tengah Masjid Lubuk Sikarah yaitu batu yang melingkari tiang tengah saat pembangunan Masjid Lubuk Sikarah. Batu yang di beri nama batu Syech Kukut tersebut berukuran panjang 99 cm dengan lebar 17 cm. (wy)

Tags: , , , , , , ,